Toko Buku Pesantren: pesantren | Jual Buku Islam, toko buku pesantren tentang agama islam, buku islam, penerbit buku islam, islamic book, terjemah kitab kuning, agama islam online, buku pesantren karya ilmiah santri, buku santri, santriwan santriwati, kitab kuning, fikih, nahwu, hadits, tafsir, shorof, nahwushorof, tasawuf, figh, fiqh, usulfikih, ushulfikih, ushulfiqh, buku bahasa arab, bahasa arab, pondok pesantren, makna Jawa, kitab Makna, agama sejarah islam Toko Buku Pesantren: pesantren
back to top
Shopping Cart
0 item(s)
Rp 0.00
Your Cart

Popular Products 2

Toko Buku Pesantren

TAISIRUL KHOLLAQ
Fii ‘Ilmil Akhlaaq

Kitab Taisirul Khollaq Fii ‘Ilmil Akhlaaq karya Syaikh Hafidz Hasan al-Mas’udiy adalah salah satu kitab yang menjadi pedoman dalam mengajarkan akhlaaqul kariimah yang telah dipakai sejak tempo dulu di Madrasah-madrasah Diniyyah maupun Pondok Pesantren dan dipilih oleh para Ulama Salafush Shoolih.
Hadirnya kitab terjemah ini, semoga dapat membantu para pelajar dan khalayak umum dalam memahami kandungan kitab Taisirul Khollaaq Fii ‘Ilmil Akhlaaq.

Judul : TAISIRUL KHOLLAQ FII ‘ILMIL AKHLAAQ
Mu’allif : Syekh Hafidz al-Mas’udiy
Alih Bahasa : M. Munawwir Ridlwan
Editor : Abu Ahmad Aflah
Setting, Lay Out : Abi Muhammad AzHa
Design Cover : AA. Hanif
Penerbit : ZAM-ZAM Sumber Mata Air Ilmu
Ukuran : 14,7 x 21 Cm
Tebal : 64 Halaman
Cetakan : Pertama, April 2015 M.

10K


TAISIRUL KHOLLAQ Fii ‘Ilmil Akhlaaq 3 bahasa

TAISIRUL KHOLLAQ
Fii ‘Ilmil Akhlaaq

Kitab Taisirul Khollaq Fii ‘Ilmil Akhlaaq karya Syaikh Hafidz Hasan al-Mas’udiy adalah salah satu kitab yang menjadi pedoman dalam mengajarkan akhlaaqul kariimah yang telah dipakai sejak tempo dulu di Madrasah-madrasah Diniyyah maupun Pondok Pesantren dan dipilih oleh para Ulama Salafush Shoolih.
Hadirnya kitab terjemah ini, semoga dapat membantu para pelajar dan khalayak umum dalam memahami kandungan kitab Taisirul Khollaaq Fii ‘Ilmil Akhlaaq.

Judul : TAISIRUL KHOLLAQ FII ‘ILMIL AKHLAAQ
Mu’allif : Syekh Hafidz al-Mas’udiy
Alih Bahasa : M. Munawwir Ridlwan
Editor : Abu Ahmad Aflah
Setting, Lay Out : Abi Muhammad AzHa
Design Cover : AA. Hanif
Penerbit : ZAM-ZAM Sumber Mata Air Ilmu
Ukuran : 14,7 x 21 Cm
Tebal : 64 Halaman
Cetakan : Pertama, April 2015 M.

10K



WASHOYA AL-ABAA LI AL-ABNA
3 BAHASA

Kitab Washoya al-abaa li al-abna adalah kitab pelajaran dasar dalam memahami tatakrama (akhlak) yang diridloi oleh Allah Swt, untuk para pencari ilmu agama. Kitab karangan Syekh Muhammad Syakir ini berisi tentang kumpulan nasihat-nasihat dan hal-hal yang dibutuhkan para pelajar agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi dirinya, agama, nusa dan bangsa.
Buku Washoya al-Abaa Li al-Abna ini ditulis dengan tiga bahasa; bahasa arab dengan dimaknai ala makna pesantren (bahasa jawa) dan diterjemahkan juga sekaligus dalam bahasa indonesia. Tujuannya, agar para pembaca bisa lebih mudah memahami dan mengetahui isi dari keseluruhan kitab ini.

Judul : WASHOYAL AL-ABAA LI AL-ABNA
Mu’allif : Syekh Muhammad Syakir
Alih Bahasa : Mustamar
Setting, Lay Out : Abi Muhammad Azha
Design Cover : AZ. Hanif
Penerbit : Zam-Zam Sumber Mata Air Ilmu
Ukuran : 14,8 x 20,8 Cm
Tebal : 100 Halaman



WASHOYA AL-ABAA LI AL-ABNA  3 BAHASA

WASHOYA AL-ABAA LI AL-ABNA 3 BAHASA


WASHOYA AL-ABAA LI AL-ABNA
3 BAHASA

Kitab Washoya al-abaa li al-abna adalah kitab pelajaran dasar dalam memahami tatakrama (akhlak) yang diridloi oleh Allah Swt, untuk para pencari ilmu agama. Kitab karangan Syekh Muhammad Syakir ini berisi tentang kumpulan nasihat-nasihat dan hal-hal yang dibutuhkan para pelajar agar mendapatkan ilmu yang bermanfaat bagi dirinya, agama, nusa dan bangsa.
Buku Washoya al-Abaa Li al-Abna ini ditulis dengan tiga bahasa; bahasa arab dengan dimaknai ala makna pesantren (bahasa jawa) dan diterjemahkan juga sekaligus dalam bahasa indonesia. Tujuannya, agar para pembaca bisa lebih mudah memahami dan mengetahui isi dari keseluruhan kitab ini.

Judul : WASHOYAL AL-ABAA LI AL-ABNA
Mu’allif : Syekh Muhammad Syakir
Alih Bahasa : Mustamar
Setting, Lay Out : Abi Muhammad Azha
Design Cover : AZ. Hanif
Penerbit : Zam-Zam Sumber Mata Air Ilmu
Ukuran : 14,8 x 20,8 Cm
Tebal : 100 Halaman



WASHOYA AL-ABAA LI AL-ABNA  3 BAHASA



Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Sang Musnid Dunya dari Nusantara
Judul : Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Sang Musnid Dunya dari Nusantara
Penulis : Amirul Ulum
Pengantar : KH. Maimoen Zubair & Shaikh Muhammad Husni Ginting
Penerbit : CV. Global Press
Tebal : xxviii + 104 Halaman
Cetakan II : April 2017
Cover : Soft Cover
ISBN : 978-602-60177-1-0
Jenis Kertas : Book paper
Ukuran : 13,5×20,5
Harga : Rp. 36000,-
Sinopsis :
“Sungguh dalam diri Syaikh Yasin al-Fadani, terdapat hasrat yang tinggi untuk mengumpulkan beberapa sanad, musalsal, dan memperoleh ketinggian sanad dan ijazah (uluwwi al-isnâd wa al-ijâzah). Mudah-mudahan para pecinta ilmu yang mulia dapat mengikutinya.”
(Sayyid Alawi ibn Abbas al-Maliki : Guru Syaikh Yasin al-Fadani & Pengajar di Masjidil Haram)
“Syaikh Yâsin al-Fâdani adalah seorang yang alim, allâmah, musnidnya tanah Hejaz sekaligus musnidnya dunia. Tidak ditemukan orang semulia beliau. Lewat tangannya, Allah hidupkan ilmu sanad setelah mati. Zaman tidak akan pernah datang dengan membawa figur seperti beliau. Dengan wafatnya Syaikh Yâsin al-Fâdani, ilmu sanad menjadi turun kasta. Rasanya sulit, zaman akan kembali datang dengan membawa figur seperti beliau. Sungguh, zaman amatlah pelit untuk memberikan figur sekelas beliau.”
(Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki : Mujaddid abad 15 Hijriyah)
“Dahulu saya menganggap bahwa Sayyid Ahmad Rafi’ al-Thahthawi sebagai “musnid al-ashr”, adapun untuk sekarang, maka Syaikh Yâsin al-Fadany adalah “musnidu al-ashr” tanpa pertentangan. Sungguh persaksian ini melalui pengkajian yang mendalam.”
(Sayyid Abdullah ibn Shadiq al-Ghumary : Guru Syaikh Yâsin al-Fâdani)
“Selain dikenal sebagai ulama alim dan mempunyai banyak karya tulisnya, kalian akan menemukan Syaikh Yâsin al-Fâdani sebagai ulama yang sangat tawaduk, akhlak seorang yang mempunyai ilmu, keutamaan, dan makrifat. Ia sangat menghormati ulama. Ia gemar mengunjungi sahabat dan temannya. Ia mencintai santri-santrinya dan membimbingnya agar menjalankan amal kebaikan dan kesalehan supaya kelak menjadi ulama yang akan mengamalkan ilmu dan menyebarkannya di manapun ia berada dan berhijrah dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan”
 (Syaikh Zakaria ibn Abdullah Bela : Pengajar di Masjidil Haram)


Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Sang Musnid Dunya dari Nusantara



Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Sang Musnid Dunya dari Nusantara



Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Sang Musnid Dunya dari Nusantara
Judul : Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Sang Musnid Dunya dari Nusantara
Penulis : Amirul Ulum
Pengantar : KH. Maimoen Zubair & Shaikh Muhammad Husni Ginting
Penerbit : CV. Global Press
Tebal : xxviii + 104 Halaman
Cetakan II : April 2017
Cover : Soft Cover
ISBN : 978-602-60177-1-0
Jenis Kertas : Book paper
Ukuran : 13,5×20,5
Harga : Rp. 36000,-
Sinopsis :
“Sungguh dalam diri Syaikh Yasin al-Fadani, terdapat hasrat yang tinggi untuk mengumpulkan beberapa sanad, musalsal, dan memperoleh ketinggian sanad dan ijazah (uluwwi al-isnâd wa al-ijâzah). Mudah-mudahan para pecinta ilmu yang mulia dapat mengikutinya.”
(Sayyid Alawi ibn Abbas al-Maliki : Guru Syaikh Yasin al-Fadani & Pengajar di Masjidil Haram)
“Syaikh Yâsin al-Fâdani adalah seorang yang alim, allâmah, musnidnya tanah Hejaz sekaligus musnidnya dunia. Tidak ditemukan orang semulia beliau. Lewat tangannya, Allah hidupkan ilmu sanad setelah mati. Zaman tidak akan pernah datang dengan membawa figur seperti beliau. Dengan wafatnya Syaikh Yâsin al-Fâdani, ilmu sanad menjadi turun kasta. Rasanya sulit, zaman akan kembali datang dengan membawa figur seperti beliau. Sungguh, zaman amatlah pelit untuk memberikan figur sekelas beliau.”
(Sayyid Muhammad Alawi al-Maliki : Mujaddid abad 15 Hijriyah)
“Dahulu saya menganggap bahwa Sayyid Ahmad Rafi’ al-Thahthawi sebagai “musnid al-ashr”, adapun untuk sekarang, maka Syaikh Yâsin al-Fadany adalah “musnidu al-ashr” tanpa pertentangan. Sungguh persaksian ini melalui pengkajian yang mendalam.”
(Sayyid Abdullah ibn Shadiq al-Ghumary : Guru Syaikh Yâsin al-Fâdani)
“Selain dikenal sebagai ulama alim dan mempunyai banyak karya tulisnya, kalian akan menemukan Syaikh Yâsin al-Fâdani sebagai ulama yang sangat tawaduk, akhlak seorang yang mempunyai ilmu, keutamaan, dan makrifat. Ia sangat menghormati ulama. Ia gemar mengunjungi sahabat dan temannya. Ia mencintai santri-santrinya dan membimbingnya agar menjalankan amal kebaikan dan kesalehan supaya kelak menjadi ulama yang akan mengamalkan ilmu dan menyebarkannya di manapun ia berada dan berhijrah dengan penuh keikhlasan dan ketakwaan”
 (Syaikh Zakaria ibn Abdullah Bela : Pengajar di Masjidil Haram)


Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Sang Musnid Dunya dari Nusantara





Fakta sejarah yang mendekati kebenaran..

Dari berbagai versi, versi ini yang menurutku paling rasional didukung pidato kenegaraan Soekarno dan fakta-fakta sejarah lainnya.

Peristiwa G30S berawal dari informasi yg dibawa oleh Subandrio dari Mesir pada tgl 15 Mei 1965 tentang adanya Dewan Jenderal (Dokumen Gilchrist).
Sukarno menanggapi isu ini dgn serius. Pada tanggal 25 Mei 1965, Sukarno memanggil para Menteri Panglima Angkatan untuk meminta kejelasan tentang adanya Dewan Jenderal.

Pada kesempatan tersebut, Letjen Ahmad Yani selaku Menpangad dgn tegas menyatakan bahwa Dewan Jenderal tidak ada, yang ada adalah Dewan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) yg bertugas memberi masukan atau pendapat kepada Menpangad tentang kepangkatan dan jabatan Perwira Tinggi di tubuh angkatan darat.
Bahkan Jenderal Nasution juga memastikan bila Dewan Jenderal memang tidak ada.

Merasa kurang puas dgn penjelasan Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Nasution, Sukarnopun berusaha mencari kejelasan lebih lanjut. Sukarno memberi perintah pd Brigjen Sjafiudin (Pangdam Udayana) untuk mencari tahu nama2 yg dimaksud, lalu didapat 9 nama.
Inilah ke 9 nama yg disodorkan Brigjen Sjafiudin :
1 Jenderal AH Nasution (Menko Pangap/KASAB),
2 Letjen Ahmad Yani (Menpangad),
3 Mayjen R Soeprapto (Deputy II Menpangad)
4 Mayjen MT Haryono (Deputy III Menpangad)
5 Mayjen S Parman (Asisten I Menpangad bidang Intelejen)
6 Mayjen Djamin Ginting (Asisten II Menpangad bidang Operasi)
7 Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV Menpangad bidang Logistik)
8 Brigjen Sutoyo (Inspektur Kehakiman AD)
9 Brigjen Sukendro (Asintel Mayjen S Parman).

Akhirnya Sukarno memberi sinyal untuk menindak mereka tapi bulan berganti bulan tak ada perkembangan.
Lalu atas bisikan PKI, Sukarno menemukan ide yg dianggapnya cemerlang (menurut pikirannya berdasarkan pengalaman Lenin, Stalin, Mao Tse).

Berdasarkan rekomendasi dari Brigjen Sabur, Sukarno memberi perintah kepada Letkol Untung untuk menindak para Jenderal.
Ditentukanlah tanggalnya dan dipilihlah bulan Oktober dgn alasan Sukarno ingin mensejajarkan diri dgn Sovyet & China yg sdh lebih dahulu terkenal dgn Revolusi Oktobernya.

Dalam beberapa kesempatan Sukarno selalu menyebut peristiwa G30S dgn istilah “GESTOK”.
Sukarno menolak penggunaan istilah Gestapu atau G30S.
Sesuai perencanaan, Operasi penindakan para jenderal mulai dijalankan. Supply persenjataan diperoleh dari Marsekal Oemar Dhani yg merupakan Menpangau waktu itu.
( TNI AU baru melaporkan kehilangan senjata setelah senjata2 tsb disita lewat pertempuran di wilayah Lubang Buaya).

Berdasarkan kesaksian keluarga para jenderal yg menjadi korban, ternyata pada malam kejadian telepon selalu bordering tiap jam hanyak untuk menanyakan keberadaan para jenderal, apakah ada di rumah atau tidak.
Pada dini hari pukul 4.00 Wib operasi penindakan para jenderal pun dijalankan. Satu persatu para jenderal diculik dari rumah mereka masing-masing.

Namun operasi penindakan para jenderal ini Gagal Total karena ternyata Nasution berhasil meloloskan diri
Walau tahu kalo operasi penindakan para jenderal Gagal, namun operasi tetap dijalankan.

Pada pagi harinya Letkol Untung mengumumkan berita sebaliknya melalui RRI. Letkol Untung memberitakan kesuksesan Dewan Revolusi menghabisi para jenderal yg dianggap menghalangi Revolusi yg dicanangkan Sukarno.

Pengumunan ini ternyata mendapat sambutan diberbagai daerah, seperti Jogjakarta, dimana Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono diculik dan dibunuh. Bahkan dibeberapa daerah, para anggota PKI & simpatisan PKI mulai menebar ancaman yg membuat rakyat menjadi kian ketakutan.

Dalam persembunyiannya, jenderal Nasution mengakui kalo dirina merasa gamang dlm menentukan siapa kawan dan siapa lawan yg sebenarna. Akhirnya Nasution memilih KOSTRAD sbg tempat berlindung walau diketahui sebetulnya sbg Benteng Pengendali Keamanan Ibukota adalah KODAM JAYA.

Menjelang sore sekitar pukul 4 lewat akhirnya jenderal Nasution masuk ke Markas KOSTRAD.
Jenderal Nasutionpun memberi perintah kepada Mayjen Suharto untuk mengambil alih komando TNI AD. Menindak lanjuti perintah jenderal Nasution, Mayjen Suharto mengirim telegram keseluruh Kodam memberitahukan tentang selamatnya jenderal Nasution dan memerintahkan untuk bersiaga penuh.

Mayjen Suharto pun memberi perintah kepada Kolonel Sarwo Edhie untuk segera merebut RRI & menguasai Halim (daerah Lubang Buaya yg merupakan tempat pelatihan militer para Pemuda Rakyat).

Sejarah mencatat, dari 3 Menteri Panglima yg tersisa hanya Menpangal Laksamana RE Martadinata yg menjenguk Jenderal Nasution saat berada di Kostrad pasca kejadian.
Usai mendengar kesaksian Jenderal Nasuton, Laksamana RE Martadinata menyatakan sikap TNI AL yg mendukung TNI AD untuk melawan PKI.

Namun sayang, sikap ini justru membuat karier militernya tamat, karena pada tgl 21 Februari 1966, Laksamana RE Martadinata dicopot jabatannya sbg Menpangal.
Ternyata selamatnya Jenderal Nasution waktu itu, menjadi petaka bagi Sukarno dan PKI, apalagi saat ditangkap, Letkol Untung memberi daftar 60 nama prajurit Cakrabirawa yg terlibat langsung.

Harap diingat, pada malam peristiwa Letkol Untung memberi memo kepada Sukarno saat seminar para Arsitek. Setelah membaca memo tsb Sukarno menyelipkan ucapan yg dikutip dari kisah Ramayana/Mahabrata tentang membunuh saudara kandung demi pencapaian tujuan.

Perlu diketahui, sehari sebelum peristiwa terjadi ternyata Sukarno sdh menjanjikan posisi Menpangad kepada Mayjen Mursjid yg merupakan orang nomor 2 di Kemenpangad waktu itu. Mayjen Mursjid adalah Deputy I Menpangad yg tdk turut menjadi target saat itu padahal Deputy II & Deputy III turut menjadi korban saat itu.

Para Antek2 PKI yg berkedok Sukarnois mencoba memelintir peristiwa G30S dgn mengabaikan “Selamatnya” Jenderal Nasution.
Padahal beliaulah yg membuat semua skenario & rencana Sukarno menjadi berantakan.
Lalu tindakan Sukarno yg justru mencopot jabatan Jenderal Nasution dari jabatannya sbg Menko Pangap/Kasab, semakin memperkuat kecurigaan akan keterlibatan Sukarno.
Tindakan pencopotan ini seolah menunjukan kalo Sukarno Gak Suka kalo Nasution berhasil selamat.

Pasca peristiwa pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya, situasi Eskalasi politik di Indonesia semakin memanas. Rakyat mulai turun kejalan menuntut pembubaran PKI tapi Sukarno seolah tak bergeming membela keberadaan PKI.
Bahkan saat berpidato didepan Front Nasional tgl 13 Februari 1966, di daerah Senayan, Sukarno kembali dgn lantang memuji PKI dgn mengatakan, “Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI”.

Mendengar pidato Sukarno yang keukeuh membela PKI, tuntutan mahasiswa dan rakyat semakin menguat untuk melengserkan Sukarno. Menghadapi tuntutan mahasiswa dan rakyat yang semakin meluas, akhirnya Sukarno mengeluarkan SP 11 Maret ditahun 1966, yang isinya memerintahkan Letjen Suharto sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat untuk segera mengendalikan situasi dan keadaan dengan mengambil tindakan yang dianggap perlu demi menjaga keamanan dan kestabilan pemerintahan. Namun Sukarno cukup cerdik dengan menyelipkan perintah untuk menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya. Sukarno menyelipkan perintah menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya dengan menyematkan berbagai gelar yang disandangnya.

Berdasarkan SP 11 Maret, Letjen Suharto mulai mengadakan pembersihan atas unsur-unsur PKI di pemerintahan termasuk menangkapi beberapa menteri dan pejabat yang terlibat PKI. Tindakan Letjen Suharto mendapat kritikan dari Sukarno yang ditanggapi Suharto dengan memasang dirinya sebagai tameng untuk menjaga nama baik Sukarno.

Pasca terbitnya SP 11 Maret, situasi keamanan Negara mulai kondusif dan terkendali. Gejolak demontrasi anti pemerintah mulai mereda.
Namun situasi kembali memanas saat Sukarno mengawini gadis belia, Heldy Jaffar yang berusia 18 tahun dibulan Mei 1966. Perkawinan ini menjadi puncak kemarahan rakyat dan menjadi bukti “Ketidak Pedulian” Sukarno terhadap kondisi dan situasi Negara. Rakyat melihat ternyata Sukarno lebih mementingkan kepentingan pribadinya dibanding kepentingan Bangsa dan Negara.

Akhirnya tuntutan rakyat dijawab oleh MPRS yang diketuai oleh Jenderal AH Nasution.
Pada bulan Juni 1966, Sukarnopun diseret ke SU MPRS untuk dimintai pertanggung jawaban. Inilah awal kejatuhan Sukarno dimana 2 nota pembelaannya yang diberi judul Nawaksara I dan II ditolak oleh MPRS. Mandat Sukarno sebagai Presidenpun dicabut MPRS pada bulan Maret 1967. Selanjutnya MPRS memilih dan mengangkat Letjen Suharto sebagai Plt Presiden.
Terlukis kesan ketidak relaan di wajah Sukarno atas pencopotan dirinya dari kedudukan Presiden.

Berdasarkan Tap MPRS no 33 tahun 1967, MPRS memerintahkan kepada Plt Presiden, Jenderal Suharto untuk melakukan proses hukum kepada Sukarno sesuai ketentuan hukum yg berlaku, namun Suharto hanya mengenakan status Tahanan Rumah tanpa pernah berusaha mengajukan Sukarno untuk diadili.
"Mikhul Dhuwur Mendhem Jero" menjadi alasan Suharto agar Bangsa Indonesia tdk memperlakukan Sukarno seperti pesakitan/pecundang. Sikap Suharto ini dipertegas dgn pidatonya di depan Sidang MPRS pd tahun 1968, agar kita lebih baik mencurahkan tenaga & pikiran dlm menghadapi masa depan bangsa Indonesia dibanding mempermasalahkan masa yg lalu.

Pada kenyataannya, Suharto memang tidak pernah mengajukan Sukarno kedepan sidang pengadilan manapun. Bahkan sebagai bentuk penghormatan, pada tahun 1986 Suharto memberikan gelar Pahlawan Proklamasi kepada Sukarno & Hatta.
Mendirikan Tugu Proklamasi untuk menghormatinya serta menyematkan nama Sukarno-Hatta pada nama Bandara Internasional Indonesia.

Dan terakhir, Suharto menyematkan foto Sukarno-Hatta pada lembaran uang kertas Rp.100.000,-
NB : 2 Nama dari 9 nama jenderal yg menjadi target operasi berhasil selamat karena pada malam kejadian tidak berada ditempat/dirumah.

Mayjen Djamin Ginting berada di Medan saat peristiwa terjadi.
Brigjen Sukendro berada di luar Jakarta saat peristiwa terjadi.
Pasca peristiwa, Mayjen Djamin Ginting turut berlindung di Markas Kostrad bersama Jenderal AH Nasution.
Kronologis Kejadian G30S diatas ditulis oleh beberapa mantan aktivis 66. Bagi Buzzer JASMEV/PROJO & Orang2 yg Sok Ngaku Sukarnois, saya persilahkan untuk membantah Kronologis diatas dengan cara menulis Kronologis Kejadian sebagai pembandingnya.

Saya persilahkan kalian untuk memasukan semua tuduhan kalian kepada pak Harto, tapi saya ingatkan untuk tidak melupakan situasi selamatnya jenderal Nasution yg berlindung ke Markas Kostrad waktu itu.
Bila kalian masih tidak mampu untuk menuliskannya maka berarti kronologis yg ditulis para mantan aktivis 66 diatas adalah BENAR & TIDAK TERBANTAHKAN.

#DariStatusFB Agus Santoso



PKI Fakta Sejarah yang Mendekati Kebenaran

CATATAN :
1) COVER BUKU BERISIKAN BUKU BENTURAN NU-PKI 1945 - 1965 KARYA TIM PBNU
2) LINK DOWNLOAD >> http://bit.ly/BENTURANNUPKI

3) Document gilcrist salah satu teori bahwa soekarno terlibat..biar adil compare juga dg fakta dan ulasan lain spt keterlibatan CIA, Kudeta merangkak Soeharto atau bahkan keterlibatan Soekarno..

Belajar sejarah itu tdk bs satu versi...ada metode sejarah.
..dikaitkan jg dg sosiologi sejarah...

Kalau sejarah satu versi kemudian di klaim.sbg paling benar itu namanya propaganda...gak ada pelajaran apa pun yg d dapat dr propaganda selain dendam dan kekuasaan...

Dengan memahami sejarah scr utuh dr banyak sisi kita akan bs melihat akar masalah dg baik...

PKI Fakta Sejarah yang Mendekati Kebenaran



Fakta sejarah yang mendekati kebenaran..

Dari berbagai versi, versi ini yang menurutku paling rasional didukung pidato kenegaraan Soekarno dan fakta-fakta sejarah lainnya.

Peristiwa G30S berawal dari informasi yg dibawa oleh Subandrio dari Mesir pada tgl 15 Mei 1965 tentang adanya Dewan Jenderal (Dokumen Gilchrist).
Sukarno menanggapi isu ini dgn serius. Pada tanggal 25 Mei 1965, Sukarno memanggil para Menteri Panglima Angkatan untuk meminta kejelasan tentang adanya Dewan Jenderal.

Pada kesempatan tersebut, Letjen Ahmad Yani selaku Menpangad dgn tegas menyatakan bahwa Dewan Jenderal tidak ada, yang ada adalah Dewan Kepangkatan Tinggi (Wanjakti) yg bertugas memberi masukan atau pendapat kepada Menpangad tentang kepangkatan dan jabatan Perwira Tinggi di tubuh angkatan darat.
Bahkan Jenderal Nasution juga memastikan bila Dewan Jenderal memang tidak ada.

Merasa kurang puas dgn penjelasan Jenderal Ahmad Yani dan Jenderal Nasution, Sukarnopun berusaha mencari kejelasan lebih lanjut. Sukarno memberi perintah pd Brigjen Sjafiudin (Pangdam Udayana) untuk mencari tahu nama2 yg dimaksud, lalu didapat 9 nama.
Inilah ke 9 nama yg disodorkan Brigjen Sjafiudin :
1 Jenderal AH Nasution (Menko Pangap/KASAB),
2 Letjen Ahmad Yani (Menpangad),
3 Mayjen R Soeprapto (Deputy II Menpangad)
4 Mayjen MT Haryono (Deputy III Menpangad)
5 Mayjen S Parman (Asisten I Menpangad bidang Intelejen)
6 Mayjen Djamin Ginting (Asisten II Menpangad bidang Operasi)
7 Brigjen DI Panjaitan (Asisten IV Menpangad bidang Logistik)
8 Brigjen Sutoyo (Inspektur Kehakiman AD)
9 Brigjen Sukendro (Asintel Mayjen S Parman).

Akhirnya Sukarno memberi sinyal untuk menindak mereka tapi bulan berganti bulan tak ada perkembangan.
Lalu atas bisikan PKI, Sukarno menemukan ide yg dianggapnya cemerlang (menurut pikirannya berdasarkan pengalaman Lenin, Stalin, Mao Tse).

Berdasarkan rekomendasi dari Brigjen Sabur, Sukarno memberi perintah kepada Letkol Untung untuk menindak para Jenderal.
Ditentukanlah tanggalnya dan dipilihlah bulan Oktober dgn alasan Sukarno ingin mensejajarkan diri dgn Sovyet & China yg sdh lebih dahulu terkenal dgn Revolusi Oktobernya.

Dalam beberapa kesempatan Sukarno selalu menyebut peristiwa G30S dgn istilah “GESTOK”.
Sukarno menolak penggunaan istilah Gestapu atau G30S.
Sesuai perencanaan, Operasi penindakan para jenderal mulai dijalankan. Supply persenjataan diperoleh dari Marsekal Oemar Dhani yg merupakan Menpangau waktu itu.
( TNI AU baru melaporkan kehilangan senjata setelah senjata2 tsb disita lewat pertempuran di wilayah Lubang Buaya).

Berdasarkan kesaksian keluarga para jenderal yg menjadi korban, ternyata pada malam kejadian telepon selalu bordering tiap jam hanyak untuk menanyakan keberadaan para jenderal, apakah ada di rumah atau tidak.
Pada dini hari pukul 4.00 Wib operasi penindakan para jenderal pun dijalankan. Satu persatu para jenderal diculik dari rumah mereka masing-masing.

Namun operasi penindakan para jenderal ini Gagal Total karena ternyata Nasution berhasil meloloskan diri
Walau tahu kalo operasi penindakan para jenderal Gagal, namun operasi tetap dijalankan.

Pada pagi harinya Letkol Untung mengumumkan berita sebaliknya melalui RRI. Letkol Untung memberitakan kesuksesan Dewan Revolusi menghabisi para jenderal yg dianggap menghalangi Revolusi yg dicanangkan Sukarno.

Pengumunan ini ternyata mendapat sambutan diberbagai daerah, seperti Jogjakarta, dimana Kolonel Katamso dan Letkol Sugijono diculik dan dibunuh. Bahkan dibeberapa daerah, para anggota PKI & simpatisan PKI mulai menebar ancaman yg membuat rakyat menjadi kian ketakutan.

Dalam persembunyiannya, jenderal Nasution mengakui kalo dirina merasa gamang dlm menentukan siapa kawan dan siapa lawan yg sebenarna. Akhirnya Nasution memilih KOSTRAD sbg tempat berlindung walau diketahui sebetulnya sbg Benteng Pengendali Keamanan Ibukota adalah KODAM JAYA.

Menjelang sore sekitar pukul 4 lewat akhirnya jenderal Nasution masuk ke Markas KOSTRAD.
Jenderal Nasutionpun memberi perintah kepada Mayjen Suharto untuk mengambil alih komando TNI AD. Menindak lanjuti perintah jenderal Nasution, Mayjen Suharto mengirim telegram keseluruh Kodam memberitahukan tentang selamatnya jenderal Nasution dan memerintahkan untuk bersiaga penuh.

Mayjen Suharto pun memberi perintah kepada Kolonel Sarwo Edhie untuk segera merebut RRI & menguasai Halim (daerah Lubang Buaya yg merupakan tempat pelatihan militer para Pemuda Rakyat).

Sejarah mencatat, dari 3 Menteri Panglima yg tersisa hanya Menpangal Laksamana RE Martadinata yg menjenguk Jenderal Nasution saat berada di Kostrad pasca kejadian.
Usai mendengar kesaksian Jenderal Nasuton, Laksamana RE Martadinata menyatakan sikap TNI AL yg mendukung TNI AD untuk melawan PKI.

Namun sayang, sikap ini justru membuat karier militernya tamat, karena pada tgl 21 Februari 1966, Laksamana RE Martadinata dicopot jabatannya sbg Menpangal.
Ternyata selamatnya Jenderal Nasution waktu itu, menjadi petaka bagi Sukarno dan PKI, apalagi saat ditangkap, Letkol Untung memberi daftar 60 nama prajurit Cakrabirawa yg terlibat langsung.

Harap diingat, pada malam peristiwa Letkol Untung memberi memo kepada Sukarno saat seminar para Arsitek. Setelah membaca memo tsb Sukarno menyelipkan ucapan yg dikutip dari kisah Ramayana/Mahabrata tentang membunuh saudara kandung demi pencapaian tujuan.

Perlu diketahui, sehari sebelum peristiwa terjadi ternyata Sukarno sdh menjanjikan posisi Menpangad kepada Mayjen Mursjid yg merupakan orang nomor 2 di Kemenpangad waktu itu. Mayjen Mursjid adalah Deputy I Menpangad yg tdk turut menjadi target saat itu padahal Deputy II & Deputy III turut menjadi korban saat itu.

Para Antek2 PKI yg berkedok Sukarnois mencoba memelintir peristiwa G30S dgn mengabaikan “Selamatnya” Jenderal Nasution.
Padahal beliaulah yg membuat semua skenario & rencana Sukarno menjadi berantakan.
Lalu tindakan Sukarno yg justru mencopot jabatan Jenderal Nasution dari jabatannya sbg Menko Pangap/Kasab, semakin memperkuat kecurigaan akan keterlibatan Sukarno.
Tindakan pencopotan ini seolah menunjukan kalo Sukarno Gak Suka kalo Nasution berhasil selamat.

Pasca peristiwa pembunuhan para jenderal di Lubang Buaya, situasi Eskalasi politik di Indonesia semakin memanas. Rakyat mulai turun kejalan menuntut pembubaran PKI tapi Sukarno seolah tak bergeming membela keberadaan PKI.
Bahkan saat berpidato didepan Front Nasional tgl 13 Februari 1966, di daerah Senayan, Sukarno kembali dgn lantang memuji PKI dgn mengatakan, “Di Indonesia ini tidak ada partai yang pengorbanannya terhadap Nusa dan Bangsa sebesar PKI”.

Mendengar pidato Sukarno yang keukeuh membela PKI, tuntutan mahasiswa dan rakyat semakin menguat untuk melengserkan Sukarno. Menghadapi tuntutan mahasiswa dan rakyat yang semakin meluas, akhirnya Sukarno mengeluarkan SP 11 Maret ditahun 1966, yang isinya memerintahkan Letjen Suharto sebagai Menteri Panglima Angkatan Darat untuk segera mengendalikan situasi dan keadaan dengan mengambil tindakan yang dianggap perlu demi menjaga keamanan dan kestabilan pemerintahan. Namun Sukarno cukup cerdik dengan menyelipkan perintah untuk menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya. Sukarno menyelipkan perintah menjaga dan menjamin keselamatan pribadinya dengan menyematkan berbagai gelar yang disandangnya.

Berdasarkan SP 11 Maret, Letjen Suharto mulai mengadakan pembersihan atas unsur-unsur PKI di pemerintahan termasuk menangkapi beberapa menteri dan pejabat yang terlibat PKI. Tindakan Letjen Suharto mendapat kritikan dari Sukarno yang ditanggapi Suharto dengan memasang dirinya sebagai tameng untuk menjaga nama baik Sukarno.

Pasca terbitnya SP 11 Maret, situasi keamanan Negara mulai kondusif dan terkendali. Gejolak demontrasi anti pemerintah mulai mereda.
Namun situasi kembali memanas saat Sukarno mengawini gadis belia, Heldy Jaffar yang berusia 18 tahun dibulan Mei 1966. Perkawinan ini menjadi puncak kemarahan rakyat dan menjadi bukti “Ketidak Pedulian” Sukarno terhadap kondisi dan situasi Negara. Rakyat melihat ternyata Sukarno lebih mementingkan kepentingan pribadinya dibanding kepentingan Bangsa dan Negara.

Akhirnya tuntutan rakyat dijawab oleh MPRS yang diketuai oleh Jenderal AH Nasution.
Pada bulan Juni 1966, Sukarnopun diseret ke SU MPRS untuk dimintai pertanggung jawaban. Inilah awal kejatuhan Sukarno dimana 2 nota pembelaannya yang diberi judul Nawaksara I dan II ditolak oleh MPRS. Mandat Sukarno sebagai Presidenpun dicabut MPRS pada bulan Maret 1967. Selanjutnya MPRS memilih dan mengangkat Letjen Suharto sebagai Plt Presiden.
Terlukis kesan ketidak relaan di wajah Sukarno atas pencopotan dirinya dari kedudukan Presiden.

Berdasarkan Tap MPRS no 33 tahun 1967, MPRS memerintahkan kepada Plt Presiden, Jenderal Suharto untuk melakukan proses hukum kepada Sukarno sesuai ketentuan hukum yg berlaku, namun Suharto hanya mengenakan status Tahanan Rumah tanpa pernah berusaha mengajukan Sukarno untuk diadili.
"Mikhul Dhuwur Mendhem Jero" menjadi alasan Suharto agar Bangsa Indonesia tdk memperlakukan Sukarno seperti pesakitan/pecundang. Sikap Suharto ini dipertegas dgn pidatonya di depan Sidang MPRS pd tahun 1968, agar kita lebih baik mencurahkan tenaga & pikiran dlm menghadapi masa depan bangsa Indonesia dibanding mempermasalahkan masa yg lalu.

Pada kenyataannya, Suharto memang tidak pernah mengajukan Sukarno kedepan sidang pengadilan manapun. Bahkan sebagai bentuk penghormatan, pada tahun 1986 Suharto memberikan gelar Pahlawan Proklamasi kepada Sukarno & Hatta.
Mendirikan Tugu Proklamasi untuk menghormatinya serta menyematkan nama Sukarno-Hatta pada nama Bandara Internasional Indonesia.

Dan terakhir, Suharto menyematkan foto Sukarno-Hatta pada lembaran uang kertas Rp.100.000,-
NB : 2 Nama dari 9 nama jenderal yg menjadi target operasi berhasil selamat karena pada malam kejadian tidak berada ditempat/dirumah.

Mayjen Djamin Ginting berada di Medan saat peristiwa terjadi.
Brigjen Sukendro berada di luar Jakarta saat peristiwa terjadi.
Pasca peristiwa, Mayjen Djamin Ginting turut berlindung di Markas Kostrad bersama Jenderal AH Nasution.
Kronologis Kejadian G30S diatas ditulis oleh beberapa mantan aktivis 66. Bagi Buzzer JASMEV/PROJO & Orang2 yg Sok Ngaku Sukarnois, saya persilahkan untuk membantah Kronologis diatas dengan cara menulis Kronologis Kejadian sebagai pembandingnya.

Saya persilahkan kalian untuk memasukan semua tuduhan kalian kepada pak Harto, tapi saya ingatkan untuk tidak melupakan situasi selamatnya jenderal Nasution yg berlindung ke Markas Kostrad waktu itu.
Bila kalian masih tidak mampu untuk menuliskannya maka berarti kronologis yg ditulis para mantan aktivis 66 diatas adalah BENAR & TIDAK TERBANTAHKAN.

#DariStatusFB Agus Santoso



PKI Fakta Sejarah yang Mendekati Kebenaran

CATATAN :
1) COVER BUKU BERISIKAN BUKU BENTURAN NU-PKI 1945 - 1965 KARYA TIM PBNU
2) LINK DOWNLOAD >> http://bit.ly/BENTURANNUPKI

3) Document gilcrist salah satu teori bahwa soekarno terlibat..biar adil compare juga dg fakta dan ulasan lain spt keterlibatan CIA, Kudeta merangkak Soeharto atau bahkan keterlibatan Soekarno..

Belajar sejarah itu tdk bs satu versi...ada metode sejarah.
..dikaitkan jg dg sosiologi sejarah...

Kalau sejarah satu versi kemudian di klaim.sbg paling benar itu namanya propaganda...gak ada pelajaran apa pun yg d dapat dr propaganda selain dendam dan kekuasaan...

Dengan memahami sejarah scr utuh dr banyak sisi kita akan bs melihat akar masalah dg baik...
RISALAH AL-MARDLO
Doa-doa dan panduan ibadah orang-orang Sakit

Karya : elkarimy (purnasiswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo)
Tebal : xxiii + 117 halaman
Dimensi : 12 x 13 cm
Fan : Fikih Ubudiyah
Harga : l7K

Sakit acapkali menjadi alasan bagi sebagian muslim untuk meninggalkan tanggungjawab ibadah sebagai hambaNya. Buku ini memberi kita  panduan. bahwa dalam sakit seperti apapun, ibadah tetap bisa kila lakukan dengan nyaman, tanpa menambah penderitaan, alih-ahh menunda kasembuhan.

#risalahalmardlo #panduanibadahorangsakit
#bukusantri #bukulirboyo #bukuislam #bukupesantren #lirboyo #bukuorangsakit #panduanorangsakit #panduanibadah #orangsakit #bukuibadah #santri #salafy #kajiansalaf #kajiansalafy #ngajisalaf #pesantren

RISALAH AL-MARDLO Doa-doa dan panduan ibadah orang-orang Sakit

RISALAH AL-MARDLO
Doa-doa dan panduan ibadah orang-orang Sakit

Karya : elkarimy (purnasiswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien Pondok Pesantren Lirboyo)
Tebal : xxiii + 117 halaman
Dimensi : 12 x 13 cm
Fan : Fikih Ubudiyah
Harga : l7K

Sakit acapkali menjadi alasan bagi sebagian muslim untuk meninggalkan tanggungjawab ibadah sebagai hambaNya. Buku ini memberi kita  panduan. bahwa dalam sakit seperti apapun, ibadah tetap bisa kila lakukan dengan nyaman, tanpa menambah penderitaan, alih-ahh menunda kasembuhan.

#risalahalmardlo #panduanibadahorangsakit
#bukusantri #bukulirboyo #bukuislam #bukupesantren #lirboyo #bukuorangsakit #panduanorangsakit #panduanibadah #orangsakit #bukuibadah #santri #salafy #kajiansalaf #kajiansalafy #ngajisalaf #pesantren


KOPIAH HITAM
Kajian Fiqh @alasantri

Karya : elkarimy 2017 - purnasiswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien 2017 Pondok Pesantren Lirboyo
Tebal : xxiii + 402 halaman
Dimensi : 16 x 24 cm
Fan : Fiqh
Harga : Rp 55.000
Umat Islam dewasa ini mengeluh, masalah masalah keagamaan di tengah-tengah mereka seringkali dijawab dengan bimbang. Bahkan, banyak dari jawaban itu keluar dari oknum oknum, yang sayangnya tidak berpijak pada pedoman fikih dan akidah Islam yang benar. Buku ini disahkan untuk memawab masalah-masalah keagamaan di dalam masyarakat dengan tepat guna, setia berpijak pada rujukan sesuai formulasi yang ditancapkan ahlusunnah waljamaah an-nahdlyah.

#bukuislam #bukupesantren #bukusantri #bahtsulmasail #masailsantri #fiqhkeseharian #fiqhmasyarakat #ngajifiqh #sorogan #bandongan #barokah #santri #pesantren #pondokpesantren #manhajsalaf #salafy #salafiyyah #kajiansalaf #kajiansalafy #ngajikitab #kitabkuning #salafusholih #kopiahhitam #kajianfiqh #alasantri

Kopiah Hitam Kajian Fiqih Ala Santri



KOPIAH HITAM
Kajian Fiqh @alasantri

Karya : elkarimy 2017 - purnasiswa Madrasah Hidayatul Mubtadi-ien 2017 Pondok Pesantren Lirboyo
Tebal : xxiii + 402 halaman
Dimensi : 16 x 24 cm
Fan : Fiqh
Harga : Rp 55.000
Umat Islam dewasa ini mengeluh, masalah masalah keagamaan di tengah-tengah mereka seringkali dijawab dengan bimbang. Bahkan, banyak dari jawaban itu keluar dari oknum oknum, yang sayangnya tidak berpijak pada pedoman fikih dan akidah Islam yang benar. Buku ini disahkan untuk memawab masalah-masalah keagamaan di dalam masyarakat dengan tepat guna, setia berpijak pada rujukan sesuai formulasi yang ditancapkan ahlusunnah waljamaah an-nahdlyah.

#bukuislam #bukupesantren #bukusantri #bahtsulmasail #masailsantri #fiqhkeseharian #fiqhmasyarakat #ngajifiqh #sorogan #bandongan #barokah #santri #pesantren #pondokpesantren #manhajsalaf #salafy #salafiyyah #kajiansalaf #kajiansalafy #ngajikitab #kitabkuning #salafusholih #kopiahhitam #kajianfiqh #alasantri


Orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) diberikan beberapa keringanan (rukhshah) yang tidak diberikan kepada orang yang sedang di rumah (mukim), seperti boleh tidak berpuasa ramadhan namun harus menggantinya pada hari-hari lain, boleh mengqashar salat, boleh menjamak salat, bertayamum, dan lain-lain.
Buku ini mengupas kemurahan-kemurahan tersebut, khususnya terkait dengan jamak dan qashar shalat. Juga dikupas beberapa persoalan ibadah dalam perjalanan, seperti bagaimana dengan sopir yang tiap hari aja di jalan, bagaimana ibadah dalam perjalanan yang memakan waktu 20 jam, bagaimana jika sudah mengqashar dan menjamak salat lalu tidak meneruskan perjalanan, dan lain-lain. Semua dikupas dengan bahasa ringan dan mudah dipahami.

Judul : RUKHSHAH MUSAFIR, Cara praktis beribadah dalam perjalanan
Penulis : M. Sholahudin
Editor : Nous Team
Design Cover : Andik
Penerbit : Nous Pustaka Utama
Ukuran : 12 x 19,6 cm
Tebal : vii + 92 Halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2013
harga 15.000

RUKHSHAH MUSAFIR Cara praktis beribadah dalam perjalanan



Orang yang sedang dalam perjalanan (musafir) diberikan beberapa keringanan (rukhshah) yang tidak diberikan kepada orang yang sedang di rumah (mukim), seperti boleh tidak berpuasa ramadhan namun harus menggantinya pada hari-hari lain, boleh mengqashar salat, boleh menjamak salat, bertayamum, dan lain-lain.
Buku ini mengupas kemurahan-kemurahan tersebut, khususnya terkait dengan jamak dan qashar shalat. Juga dikupas beberapa persoalan ibadah dalam perjalanan, seperti bagaimana dengan sopir yang tiap hari aja di jalan, bagaimana ibadah dalam perjalanan yang memakan waktu 20 jam, bagaimana jika sudah mengqashar dan menjamak salat lalu tidak meneruskan perjalanan, dan lain-lain. Semua dikupas dengan bahasa ringan dan mudah dipahami.

Judul : RUKHSHAH MUSAFIR, Cara praktis beribadah dalam perjalanan
Penulis : M. Sholahudin
Editor : Nous Team
Design Cover : Andik
Penerbit : Nous Pustaka Utama
Ukuran : 12 x 19,6 cm
Tebal : vii + 92 Halaman
Cetakan : Pertama, Mei 2013
harga 15.000



Judul Buku : Kartini Nyantri (Edisi Best Seller)
Penulis : Amirul Ulum 
Penerbit : CV. Global Press 
Tebal : xii+ 266 Halaman 
Cetakan II : November 2016
Cover : Soft Cover 
Jenis Kertas : Book paper 
Ukuran : 13,5×20,5

Harga : Rp. 70.000,- 


“Siapa tahu apa yang sebenarnya baik akan menjadi sesuatu kejahatan apabila ditulis oleh pena yang tidak bijaksana, tidak berpengetahuan dan pemarah.”

(Raden Ajeng Kartini : 1901)

Gadis itu termenung dalam kesepian. Meratapi sebuah keniscayaan yang menimpa dirinya dan kaum perempuan Jawa. Mengapa seorang Hawa tidak diperkenankan untuk keluar rumah untuk meneruskan misi pendidikannya padahal kaum Adam diperbolehkan. Ia menganggap bahwa semuanya itu dlindungi oleh hukum Islam.
Gadis itu bernama Kartini, putri dari Adipati Jepara, Raden Mas Sosroningrat. Seandainya ia dapat berubah menjadi seorang lelaki, maka ia sangat berharap sedemikian untuk mengepakkan sayapnya supaya dapat bebas terbang untuk mencari sebuah pengetahuan. Semuanya ia lakukan demi mendapatkan sebuah pendidikan, sejuta ilmu yang akan digunakan untuk mengentaskan bangsanya dari kungkuman penjajahan yang sudah menjamur. Semuanya terjadi sebab kebodohan, yang selalu diharapkan untuk tetap menjamur, supaya kompeni dapat mengeruk harta kekayaan Nusantara, melanggengkan kekuasaannya, dan menyebarkan agama yang dianutnya, glod, glory, and gospel.

Saat masih kecil, sebelum usianya dipingit, Kartini pernah mengalami sebuah pengalaman pahit tentang al-Qur’an, kitab suci pegangan umat Islam, kitab sucinya yang dijadikan sebagai pedoman hidup untuk bekal keselamatan di dunia dan akhirat. Ia mengalami pengalaman pahit saat mengaji al-Qur’an kepada guru ngajinya. Sejatinya ia sangat tertarik dengan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, kitab suci yang tidak akan pernah dapat ditandingi kehebatannya oleh semua mahkluk di alam semesta. Akan tetapi, karena keingintahuannya yang tinggi, dengan memberanikan diri, ia bertanya kepada guru ngajinya tentang makna yang terkandung. Guru ngajinya tidak bersedia menerjemahkan arti yang terkandung dalam kitab suci al-Qur’an. Kartini sangat kecewa. Ia menjadi malas mengaji. Iapun mencurhatnya kegelisahannya kepada sahabat penanya yang ada di Eropa, Stella namanya.
“Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan, dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu bahasa Arab. Di sini orang diajari membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap hal itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya. Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hafal seluruhnya, tanpa kamu terangkan kepada maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankan demikian, Stella?”.
Ketidak bolehan menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa selain Arab tidak dapat dilepaskan dari peran Belanda yang berusaha menjauhkan umat Islam pribumi dari agamanya. Sebab jika al-Qur’an diketahui maknanya, maka hal tersebut dapat membahayakan bangsa penjajah, sebab di dalamnya terdapat ayat Allah yang isinya jika diketahui artinya, maka akan merugikan pihak Belanda seperti bahwa orang yang mati syahid dalam membela agama Allah dijanjikan dengan kenikmatan yang berlipat ganda, dan mereka sebenarnya tidaklah mati, akan tetapi masih hidup di sisi Tuhan-nya. Kompeni trauma dengan perlawan Muslim Aceh yang menggebu-gebu, begitu juga perlawan Pangeran Diponegoro, dan para kiai-santri di Cilegon pada 1888. Semua terjadi sebab spirit ulama yang mengadopsi janji dari al-Qur’an.
Melalui Snock Hurgronje, Pemerintah Hindia Belanda membuat kebijakan yang tidak menguntungkan bagi umat Islam. Salah satunya caranya didekatilah putra bangsawan yang kebanyakan berasal dari trah para kiai atau ulama supaya berkenan dididik dengan dengan pengajaran umum, memasuki sekolah sekolah yang didirikan oleh Belanda. Mereka lebih disibukkan dengan pengajaran umum dibanding dengan menyibukkan menghafalkan kalam ilahi serta nazam-nazam atau kitab yang dikarang oleh para ulama, sebagaimana tradisi pendahulunya.
Kartini meskipun masih ada hubungan kerabat dengan al-Habsi dan masih keturunan seorang ulama dari Mayong, Kiai Haji Madirono, jika dihadapkan dengan sesuatu yang berbau arab, ia tidak dapat membacanya, ia merasa sangat kesulitan. Hal ini semata-mata disebabkan lingkungannya, Kadipaten Jepara dipenuhi dengan kompeni, serta sejak kecil ia lebih akrab dengan pendidikan yang berasal dari Belanda dibandingkan dengan pengajaran Islam. Sehingga, karena kedekatannya dengan Belanda ini, maka tatkala ia mendapatkan sebuah kemusykilan masalah agama islam, tentang kapan seorang wanita dikatakan baligh, ia mengkonsultasikan kepada ulama yang dekat dengan Belanda.
“Satu lagi permintaan yang hendak saya ajukan kepadanya, Nyonya. Apabila nyonya bertemu dengan Dr. Snouch Hurgronje, sudikah nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: “Apakah dalam Islam juga ada hukum akil baligh seperti dalam undang-undang Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kuwajiban perempuan serta perempuan Islam. Bagaimana undang-undang agama bagi mereka? Suatu hal yang bagus sekali. Saya malu bahwa kami sendiri tidak tahu tentang hal itu. Sangat menyedihkan, betapa terbatasnya pengetahuan kami mengenai hal tersebut”.
Snock dianggap Kartini sebagai seorang yang pengetahuannya tentang Islam mumpuni sebab ia merupakan seorang Mufti Hindia Belanda yang akrab dengan Abendanan yang menjadi Direktur Pengajaran Kementerian Pengajaran dan Kerajinan. Sang mufti alias Snock tidak memberikan jawaban yang mengenakkan bagi Kartini. Bahwa perempuan dikatakan baligh, jika ia sudah berkahwin. Kartini kurang puas dengan jawaban tersebut. Ia bertanya demikian sebab jika ia dianggap sudah baligh, maka ia akan diperbolehkan untuk keluar rumah, termasuk untuk mencari sejuta pengetahuan. Ia tidak dapat baligh sebelum menikah, padahal demi cita-citanya untuk mendapat pengajaran ia rela menunda pernikahannya. Semua itu ia lakukan demi bangsanya.
Kartini termenung. Ia hanya dapat mengadukan kegundahannya kepada Tuhan-nya dan curhatan melalui goresan penanya yang dikirimkan kepada sahabat penanya di Eropo. Ingin sekali ia menyelami ajaran Islam, sehingga dapat diketahui bahwa agama yang suci itu tidak pernah anti dengan pendidikan bagi wanita. Ia mengangkat harkat dan martabat kaum Hawa.
Karena terus berdoa, akhirnya Allah mengijabahi penyuwun (permintaan) hamba_Nya. Bertemulah ia dengan Kiai Sholeh Darat, yang sama-sama asli orang Jepara, namun bertempat tinggal di Semarang. Sang kiai ini sering diundang untuk mengisi acara keagamaan di beberapa kadipaten seperti Demak, Semarang, Kudus, Jepara, dan Surakarta.
Ketika mengisi acara di Kadipaten Jepara, Kartini mendengarkan bagaimana indahnya pemaparan kalam ilahi yang dari Kiai Shaleh Darat. Ada sesuatu yang membuatnya merasa berbeda dengan al-Qur’an yang selama ini ia kaji, yang mana ia tidak mengerti maksud dan artinya. Merasa penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Sholeh Darat, tatkala ayahnya mengajaknya untuk menghadiri pengajian yang sama di pendopo Kadipaten Demak, yang berada di bawa pemerintahan Adipati Ario Hadiningrat, paman Kartini, maka ia dengan senang hati mengikuti ajakan ayahnya tersebut. Di Kadipaten Demak ini, Kiai Sholeh Darat memaparkan makna yang terkandung dalam surat al-Fatihah yang setiap hari dibacanya ketika mengerjakan salat. Ia merasa tertegun dengan keindahan makna tersebut. Merasa masih penasaran dengan apa yang terkandung dalam al-Qur’an, akhirnya ia meminta sang paman agar diperkenankan untuk bertemu dengan sang kiai.
Ketika terjadi dialog antara Kartini dengan Kiai Sholeh Darat tentang hasrat Kartini yang menginginkan agar ia berkenan menerjemahkan kalam ilahi tersebut ke dalam bahasa selain Arab, yang dimengertinya. Merasa tidak mampu, Kiai Sholeh Darat mengatakan tidak sanggup. Kartini terus mengiba dan mengemis agar ia berkenan menerjemahkan al-Qur’an supaya dimengerti maksudnya. Melihat kondisi yang sedemikian ini, akhirnya Kiai Sholeh Darat tidak kuasa kecuali memenui permintaan Kartini.
Merasa sudah lama tidak bertemu dengan Kiai Sholeh Darat, akhirnya ia sowan kepadanya. Ditanyailah ihwal masalah terjemahan tafsir al-Qur’an yang dipesannya. Sang kiai menjawab belum selesai. Baru mendapatkan sebagian dari surat al-Qur’an. Kartini sudah meluap-luap atas kerinduannya terhadap al-Qur’an. Ia memohon meskipun belum sempurna, agar Kiai Sholeh Darat berkenan mempublikasikan terjemahan tersebut meskipun hanya sesurat. Ia terdiam tidak dapat menjawab keinginan Kartini. Hal ini disebabkan ketakutannya jika amalan tersebut, yakni mempublikasikan kitab yang belum paripurna, termasuk bagian amalan setan sebab adanya ketergesa-gesaan. Setelah melakukan amalan salat Istiharah, akhirnya ia mendapatkan sebuah petunjuk untuk mempublikasikan karya tersebut. Ia mengatakan, “Tergesa-gesa itu tidak haram atau makruh, khilafu al-ula (bersebrangan dengan yang lebih utama), bahkan dapat menjadi bagus dan agung memilihnya sebab adanya faidah yang berupa menjadi wasilah (perantara) atas perkara yang lebih agung (dari pada tidak disegerakan), yang berupa tersebarnya ilmu, hikmah, dan asrar (rahasia) yang akan diketahui orang banyak.”
Tafsir request Kartini kepada Kiai Sholeh Darat diberi nama Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn yang diserahkan kepada Kartini pada 17 Agustus 1902. Ia mendapat oase di tengah padang pasir. Ia mengatakan :
“Karena merasa senangnya, seorang tua telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama Jawa yang kebanyakan menggunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab. Sampai saat ini buku-buku Jawa itu semakin sulit sekali diperoleh lantaran ditulis dengan tangan. Hanya beberapa buah saja yang dicetak. Kami sekarang sedang membaca puisi bagus, pelajaran yang arif dalam bahasa yang bagus. Saya ingin sekali kamu mengerti bahasa kami.
Aduhai, ingin benar saya membawa kamu untuk menikmati semua keindahan itu dalam bahasa aslinya. Maukah kamu belajar bahasa Jawa? Sulit, itu sudah tentu, tetapi bagusnya bukan main! Bahasa Jawa itu bahasa perasaan, penuh puisi dan kecerdikan. Kami sendiri sebagai anak negeri kerapkali tercengang tentang ketajaman bangsa kami.
Alangkah bahagianya Kartini mendapatkan terjemahan kalam ilahi yang selama ini dianggapnya hampa ternyata mengandung segudang hikmah. Hatinya merasa mendapatkan sebuah cahaya ketika mempelajari makna yang terkandung dalam tafsir Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn.
“Sekarang tidak gelap lagi hati sanubari kami, perasaan damai yang hening dan tenang telah turun ke dalamnya. Dalam gelap dan kabut itu terlihatlah suatu bayang-bayang yang bersinar-sinar dengan indahnya dan melambai-lambai dengan ramahnya. Itulah cita-cita kami!”
Dan dengan sangat sungguh-sungguh terdengarlah suaranya mengatakan; “Berpuasalah satu hari satu malam dan janganlah tidur selama itu, juga harus mengasingkan diri di tempat yang sepi.”
“Habis malam datanglah cahaya,
Habis topan datanglah reda
Habis juang datanglah mulia
Habis duka datanglah suka.”
Berdesau-desaulah dalam telinga saya sebagai rekuiem.
Itulah maksud dan buah pikiran yang yang terdapat dalam kata-kata berikut; “Dengan berkekurangan, menderita dan tafakur akan diperoleh nur cahaya!” Tidak ada cahaya, yang tidak didahului oleh gelap. Bagus bukan! Menahan nafsu adalah kemenangan rohani atas jasmani. Dalam menyepi orang dapat belajar berpikir.”
Merasa kelebihan yang dimiliki oleh Kiai Sholeh Darat diketahui orang lain, entah karomah atau kelebihan dalam menuangkan sebuah ide, terutama dalam kitab Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn, ia merasa bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Rasa itu ia gubah dalam kitab tersebut. Ia mengatakan, “Meskipun tafsir ini belum selesai ditulis (semua), sebab kalau diselesaikan semua kayaknya masih lama. insyaAllah akan disambung di kesempatan berikutnya. Jika saya meninggal terlebih dahulu (sementara tafsir tersebut belum tuntas ditulis), maka saya berharap kelak akan dilanjutkan oleh anak cucu.”
Perasaan Kiai Sholeh Darat menjadi sebuah kenyataan. Belum sampai merampungkan tafsirnya, allah Telah memanggilnya terlebih dahulu. Ia kembali ke Rahmatullah pada 28 Ramadhan 1321 H/ 18 Desember 1903 M. Surat yang dirampungkannya hanya al-Fatihah hingga al-Nisa, yang terdiri dari dua jilid. Tidak lama dari kemangkatan sang kiai, Kartini menyusul gurunya, ia sudah mengetahui bahwa ajalnya sudah dekat. Ia sudah merasakan bahwa umurnya tidak akan lebih dari 25 tahun. Itupun menjadi sebuah kenyataan. Ia kembali ke Rahmatullah pada 17 September 1904/ 7 Rajab 1322 H.
Kiai Sholeh Darat dikenal sebagai salah satu ulama nusantara yang produktif dalam menghasilkan karya. Mayoritas tulisannya menggunakan bahasa Arab Pegon, sebab bertujuan untuk memudahkan kaum awam yang tidak mengerti bahasa Arab. Karya selain tafsir Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn adalah Kitab Majmû'ah asy-Syâri'ah al-Kâfiyah li al-'Awam (menerangkan ilmu-ilmu syariat untuk orang awam), Kitab Munjiyat (berisi tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting dari kitab Ihyâ' `Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali), Kitab al-Hikam (tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting daripada Kitab Hikam karangan Syaikh Ibnu `Athaillah al-Askandari), Tarjamah Sabil al-`Abid `alâ Jauharah at-Tauhîd (isinya tetang tauhid), Mursyid al-Wajiz (isinya tentang tasawuf atau akhlak), Minhaj al-Atqiya' (tentang tasawuf), Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan (kitab tafsir), dan Syarh Maulid al-Burdah (berisi tentang syair-syair puistis tentang pujian terhadap Rasulullah SAW dan cara mengendalikan hawa nafsu).
Buku Kartini Nyantri berusaha menyikap tabir yang selama ini disembunyikan oleh orang barat atas diri Kartini. Mereka menganggap bahwa Kartini adalah hasil didikan utuh mereka, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Selamat membaca!




Kartini Nyantri



Judul Buku : Kartini Nyantri (Edisi Best Seller)
Penulis : Amirul Ulum 
Penerbit : CV. Global Press 
Tebal : xii+ 266 Halaman 
Cetakan II : November 2016
Cover : Soft Cover 
Jenis Kertas : Book paper 
Ukuran : 13,5×20,5

Harga : Rp. 70.000,- 


“Siapa tahu apa yang sebenarnya baik akan menjadi sesuatu kejahatan apabila ditulis oleh pena yang tidak bijaksana, tidak berpengetahuan dan pemarah.”

(Raden Ajeng Kartini : 1901)

Gadis itu termenung dalam kesepian. Meratapi sebuah keniscayaan yang menimpa dirinya dan kaum perempuan Jawa. Mengapa seorang Hawa tidak diperkenankan untuk keluar rumah untuk meneruskan misi pendidikannya padahal kaum Adam diperbolehkan. Ia menganggap bahwa semuanya itu dlindungi oleh hukum Islam.
Gadis itu bernama Kartini, putri dari Adipati Jepara, Raden Mas Sosroningrat. Seandainya ia dapat berubah menjadi seorang lelaki, maka ia sangat berharap sedemikian untuk mengepakkan sayapnya supaya dapat bebas terbang untuk mencari sebuah pengetahuan. Semuanya ia lakukan demi mendapatkan sebuah pendidikan, sejuta ilmu yang akan digunakan untuk mengentaskan bangsanya dari kungkuman penjajahan yang sudah menjamur. Semuanya terjadi sebab kebodohan, yang selalu diharapkan untuk tetap menjamur, supaya kompeni dapat mengeruk harta kekayaan Nusantara, melanggengkan kekuasaannya, dan menyebarkan agama yang dianutnya, glod, glory, and gospel.

Saat masih kecil, sebelum usianya dipingit, Kartini pernah mengalami sebuah pengalaman pahit tentang al-Qur’an, kitab suci pegangan umat Islam, kitab sucinya yang dijadikan sebagai pedoman hidup untuk bekal keselamatan di dunia dan akhirat. Ia mengalami pengalaman pahit saat mengaji al-Qur’an kepada guru ngajinya. Sejatinya ia sangat tertarik dengan bacaan ayat-ayat suci al-Qur’an, kitab suci yang tidak akan pernah dapat ditandingi kehebatannya oleh semua mahkluk di alam semesta. Akan tetapi, karena keingintahuannya yang tinggi, dengan memberanikan diri, ia bertanya kepada guru ngajinya tentang makna yang terkandung. Guru ngajinya tidak bersedia menerjemahkan arti yang terkandung dalam kitab suci al-Qur’an. Kartini sangat kecewa. Ia menjadi malas mengaji. Iapun mencurhatnya kegelisahannya kepada sahabat penanya yang ada di Eropa, Stella namanya.
“Al-Qur’an terlalu suci untuk diterjemahkan, dalam bahasa apapun juga. Di sini orang juga tidak tahu bahasa Arab. Di sini orang diajari membaca al-Qur’an, tetapi tidak mengerti apa yang dibacanya. Saya menganggap hal itu pekerjaan gila; mengajari orang membaca tanpa mengajarkan makna yang dibacanya. Sama halnya seperti kamu mengajar saya membaca buku bahasa Inggris yang harus hafal seluruhnya, tanpa kamu terangkan kepada maknanya kepada saya. Kalau saya mau mengenal dan memahami agama saya maka saya harus pergi ke negeri Arab untuk mempelajari bahasanya di sana. Walaupun tidak saleh, kan boleh juga jadi orang baik hati. Bukankan demikian, Stella?”.
Ketidak bolehan menerjemahkan al-Qur’an ke dalam bahasa selain Arab tidak dapat dilepaskan dari peran Belanda yang berusaha menjauhkan umat Islam pribumi dari agamanya. Sebab jika al-Qur’an diketahui maknanya, maka hal tersebut dapat membahayakan bangsa penjajah, sebab di dalamnya terdapat ayat Allah yang isinya jika diketahui artinya, maka akan merugikan pihak Belanda seperti bahwa orang yang mati syahid dalam membela agama Allah dijanjikan dengan kenikmatan yang berlipat ganda, dan mereka sebenarnya tidaklah mati, akan tetapi masih hidup di sisi Tuhan-nya. Kompeni trauma dengan perlawan Muslim Aceh yang menggebu-gebu, begitu juga perlawan Pangeran Diponegoro, dan para kiai-santri di Cilegon pada 1888. Semua terjadi sebab spirit ulama yang mengadopsi janji dari al-Qur’an.
Melalui Snock Hurgronje, Pemerintah Hindia Belanda membuat kebijakan yang tidak menguntungkan bagi umat Islam. Salah satunya caranya didekatilah putra bangsawan yang kebanyakan berasal dari trah para kiai atau ulama supaya berkenan dididik dengan dengan pengajaran umum, memasuki sekolah sekolah yang didirikan oleh Belanda. Mereka lebih disibukkan dengan pengajaran umum dibanding dengan menyibukkan menghafalkan kalam ilahi serta nazam-nazam atau kitab yang dikarang oleh para ulama, sebagaimana tradisi pendahulunya.
Kartini meskipun masih ada hubungan kerabat dengan al-Habsi dan masih keturunan seorang ulama dari Mayong, Kiai Haji Madirono, jika dihadapkan dengan sesuatu yang berbau arab, ia tidak dapat membacanya, ia merasa sangat kesulitan. Hal ini semata-mata disebabkan lingkungannya, Kadipaten Jepara dipenuhi dengan kompeni, serta sejak kecil ia lebih akrab dengan pendidikan yang berasal dari Belanda dibandingkan dengan pengajaran Islam. Sehingga, karena kedekatannya dengan Belanda ini, maka tatkala ia mendapatkan sebuah kemusykilan masalah agama islam, tentang kapan seorang wanita dikatakan baligh, ia mengkonsultasikan kepada ulama yang dekat dengan Belanda.
“Satu lagi permintaan yang hendak saya ajukan kepadanya, Nyonya. Apabila nyonya bertemu dengan Dr. Snouch Hurgronje, sudikah nyonya bertanya kepada beliau tentang hal berikut: “Apakah dalam Islam juga ada hukum akil baligh seperti dalam undang-undang Barat?” Ataukah sebaiknya saya memberanikan diri langsung bertanya kepada beliau? Saya ingin sekali mengetahui sesuatu tentang hak dan kuwajiban perempuan serta perempuan Islam. Bagaimana undang-undang agama bagi mereka? Suatu hal yang bagus sekali. Saya malu bahwa kami sendiri tidak tahu tentang hal itu. Sangat menyedihkan, betapa terbatasnya pengetahuan kami mengenai hal tersebut”.
Snock dianggap Kartini sebagai seorang yang pengetahuannya tentang Islam mumpuni sebab ia merupakan seorang Mufti Hindia Belanda yang akrab dengan Abendanan yang menjadi Direktur Pengajaran Kementerian Pengajaran dan Kerajinan. Sang mufti alias Snock tidak memberikan jawaban yang mengenakkan bagi Kartini. Bahwa perempuan dikatakan baligh, jika ia sudah berkahwin. Kartini kurang puas dengan jawaban tersebut. Ia bertanya demikian sebab jika ia dianggap sudah baligh, maka ia akan diperbolehkan untuk keluar rumah, termasuk untuk mencari sejuta pengetahuan. Ia tidak dapat baligh sebelum menikah, padahal demi cita-citanya untuk mendapat pengajaran ia rela menunda pernikahannya. Semua itu ia lakukan demi bangsanya.
Kartini termenung. Ia hanya dapat mengadukan kegundahannya kepada Tuhan-nya dan curhatan melalui goresan penanya yang dikirimkan kepada sahabat penanya di Eropo. Ingin sekali ia menyelami ajaran Islam, sehingga dapat diketahui bahwa agama yang suci itu tidak pernah anti dengan pendidikan bagi wanita. Ia mengangkat harkat dan martabat kaum Hawa.
Karena terus berdoa, akhirnya Allah mengijabahi penyuwun (permintaan) hamba_Nya. Bertemulah ia dengan Kiai Sholeh Darat, yang sama-sama asli orang Jepara, namun bertempat tinggal di Semarang. Sang kiai ini sering diundang untuk mengisi acara keagamaan di beberapa kadipaten seperti Demak, Semarang, Kudus, Jepara, dan Surakarta.
Ketika mengisi acara di Kadipaten Jepara, Kartini mendengarkan bagaimana indahnya pemaparan kalam ilahi yang dari Kiai Shaleh Darat. Ada sesuatu yang membuatnya merasa berbeda dengan al-Qur’an yang selama ini ia kaji, yang mana ia tidak mengerti maksud dan artinya. Merasa penasaran dengan apa yang disampaikan oleh Kiai Sholeh Darat, tatkala ayahnya mengajaknya untuk menghadiri pengajian yang sama di pendopo Kadipaten Demak, yang berada di bawa pemerintahan Adipati Ario Hadiningrat, paman Kartini, maka ia dengan senang hati mengikuti ajakan ayahnya tersebut. Di Kadipaten Demak ini, Kiai Sholeh Darat memaparkan makna yang terkandung dalam surat al-Fatihah yang setiap hari dibacanya ketika mengerjakan salat. Ia merasa tertegun dengan keindahan makna tersebut. Merasa masih penasaran dengan apa yang terkandung dalam al-Qur’an, akhirnya ia meminta sang paman agar diperkenankan untuk bertemu dengan sang kiai.
Ketika terjadi dialog antara Kartini dengan Kiai Sholeh Darat tentang hasrat Kartini yang menginginkan agar ia berkenan menerjemahkan kalam ilahi tersebut ke dalam bahasa selain Arab, yang dimengertinya. Merasa tidak mampu, Kiai Sholeh Darat mengatakan tidak sanggup. Kartini terus mengiba dan mengemis agar ia berkenan menerjemahkan al-Qur’an supaya dimengerti maksudnya. Melihat kondisi yang sedemikian ini, akhirnya Kiai Sholeh Darat tidak kuasa kecuali memenui permintaan Kartini.
Merasa sudah lama tidak bertemu dengan Kiai Sholeh Darat, akhirnya ia sowan kepadanya. Ditanyailah ihwal masalah terjemahan tafsir al-Qur’an yang dipesannya. Sang kiai menjawab belum selesai. Baru mendapatkan sebagian dari surat al-Qur’an. Kartini sudah meluap-luap atas kerinduannya terhadap al-Qur’an. Ia memohon meskipun belum sempurna, agar Kiai Sholeh Darat berkenan mempublikasikan terjemahan tersebut meskipun hanya sesurat. Ia terdiam tidak dapat menjawab keinginan Kartini. Hal ini disebabkan ketakutannya jika amalan tersebut, yakni mempublikasikan kitab yang belum paripurna, termasuk bagian amalan setan sebab adanya ketergesa-gesaan. Setelah melakukan amalan salat Istiharah, akhirnya ia mendapatkan sebuah petunjuk untuk mempublikasikan karya tersebut. Ia mengatakan, “Tergesa-gesa itu tidak haram atau makruh, khilafu al-ula (bersebrangan dengan yang lebih utama), bahkan dapat menjadi bagus dan agung memilihnya sebab adanya faidah yang berupa menjadi wasilah (perantara) atas perkara yang lebih agung (dari pada tidak disegerakan), yang berupa tersebarnya ilmu, hikmah, dan asrar (rahasia) yang akan diketahui orang banyak.”
Tafsir request Kartini kepada Kiai Sholeh Darat diberi nama Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn yang diserahkan kepada Kartini pada 17 Agustus 1902. Ia mendapat oase di tengah padang pasir. Ia mengatakan :
“Karena merasa senangnya, seorang tua telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama Jawa yang kebanyakan menggunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab. Sampai saat ini buku-buku Jawa itu semakin sulit sekali diperoleh lantaran ditulis dengan tangan. Hanya beberapa buah saja yang dicetak. Kami sekarang sedang membaca puisi bagus, pelajaran yang arif dalam bahasa yang bagus. Saya ingin sekali kamu mengerti bahasa kami.
Aduhai, ingin benar saya membawa kamu untuk menikmati semua keindahan itu dalam bahasa aslinya. Maukah kamu belajar bahasa Jawa? Sulit, itu sudah tentu, tetapi bagusnya bukan main! Bahasa Jawa itu bahasa perasaan, penuh puisi dan kecerdikan. Kami sendiri sebagai anak negeri kerapkali tercengang tentang ketajaman bangsa kami.
Alangkah bahagianya Kartini mendapatkan terjemahan kalam ilahi yang selama ini dianggapnya hampa ternyata mengandung segudang hikmah. Hatinya merasa mendapatkan sebuah cahaya ketika mempelajari makna yang terkandung dalam tafsir Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn.
“Sekarang tidak gelap lagi hati sanubari kami, perasaan damai yang hening dan tenang telah turun ke dalamnya. Dalam gelap dan kabut itu terlihatlah suatu bayang-bayang yang bersinar-sinar dengan indahnya dan melambai-lambai dengan ramahnya. Itulah cita-cita kami!”
Dan dengan sangat sungguh-sungguh terdengarlah suaranya mengatakan; “Berpuasalah satu hari satu malam dan janganlah tidur selama itu, juga harus mengasingkan diri di tempat yang sepi.”
“Habis malam datanglah cahaya,
Habis topan datanglah reda
Habis juang datanglah mulia
Habis duka datanglah suka.”
Berdesau-desaulah dalam telinga saya sebagai rekuiem.
Itulah maksud dan buah pikiran yang yang terdapat dalam kata-kata berikut; “Dengan berkekurangan, menderita dan tafakur akan diperoleh nur cahaya!” Tidak ada cahaya, yang tidak didahului oleh gelap. Bagus bukan! Menahan nafsu adalah kemenangan rohani atas jasmani. Dalam menyepi orang dapat belajar berpikir.”
Merasa kelebihan yang dimiliki oleh Kiai Sholeh Darat diketahui orang lain, entah karomah atau kelebihan dalam menuangkan sebuah ide, terutama dalam kitab Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn, ia merasa bahwa ajalnya sudah semakin dekat. Rasa itu ia gubah dalam kitab tersebut. Ia mengatakan, “Meskipun tafsir ini belum selesai ditulis (semua), sebab kalau diselesaikan semua kayaknya masih lama. insyaAllah akan disambung di kesempatan berikutnya. Jika saya meninggal terlebih dahulu (sementara tafsir tersebut belum tuntas ditulis), maka saya berharap kelak akan dilanjutkan oleh anak cucu.”
Perasaan Kiai Sholeh Darat menjadi sebuah kenyataan. Belum sampai merampungkan tafsirnya, allah Telah memanggilnya terlebih dahulu. Ia kembali ke Rahmatullah pada 28 Ramadhan 1321 H/ 18 Desember 1903 M. Surat yang dirampungkannya hanya al-Fatihah hingga al-Nisa, yang terdiri dari dua jilid. Tidak lama dari kemangkatan sang kiai, Kartini menyusul gurunya, ia sudah mengetahui bahwa ajalnya sudah dekat. Ia sudah merasakan bahwa umurnya tidak akan lebih dari 25 tahun. Itupun menjadi sebuah kenyataan. Ia kembali ke Rahmatullah pada 17 September 1904/ 7 Rajab 1322 H.
Kiai Sholeh Darat dikenal sebagai salah satu ulama nusantara yang produktif dalam menghasilkan karya. Mayoritas tulisannya menggunakan bahasa Arab Pegon, sebab bertujuan untuk memudahkan kaum awam yang tidak mengerti bahasa Arab. Karya selain tafsir Faidhu al-Rahmãn fi Tarjamati Tafsîri Kalam Maliki al-Dayyãn adalah Kitab Majmû'ah asy-Syâri'ah al-Kâfiyah li al-'Awam (menerangkan ilmu-ilmu syariat untuk orang awam), Kitab Munjiyat (berisi tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting dari kitab Ihyâ' `Ulum ad-Din karangan Imam al-Ghazali), Kitab al-Hikam (tentang tasawuf, merupakan petikan perkara-perkara yang penting daripada Kitab Hikam karangan Syaikh Ibnu `Athaillah al-Askandari), Tarjamah Sabil al-`Abid `alâ Jauharah at-Tauhîd (isinya tetang tauhid), Mursyid al-Wajiz (isinya tentang tasawuf atau akhlak), Minhaj al-Atqiya' (tentang tasawuf), Faidh al-Rahman fi Tarjamah Tafsir Kalam Malik ad-Dayyan (kitab tafsir), dan Syarh Maulid al-Burdah (berisi tentang syair-syair puistis tentang pujian terhadap Rasulullah SAW dan cara mengendalikan hawa nafsu).
Buku Kartini Nyantri berusaha menyikap tabir yang selama ini disembunyikan oleh orang barat atas diri Kartini. Mereka menganggap bahwa Kartini adalah hasil didikan utuh mereka, padahal sebenarnya tidaklah demikian. Selamat membaca!






Judul : Syaikh Yusuf al-Maqassari : Mutiara Nusantara di Afrika Selatan
Penulis : Amirul Ulum
Pengantar : KH. Maimoen Zubair & Shaykh Shoayb Ahmed
Penerbit : CV. Global Press
Tebal : xx + 106 Halaman
Cetakan I : Maret 2017
Cover : Soft Cover
ISBN : 978-602-61077-0-1
Jenis Kertas : Book paper
Ukuran : 13,5×20,5
Harga : Rp. 35000,-

“Pada tahun 1950-an, ada tiga ulama yang berasal dari Cape Town (Afrika Selatan) yang menemui saya. Mereka meminta petunjuk masalah agama kepada saya dan menceritakan bahwa Syaikh Yusuf al-Maqasari adalah orang yang pertama kali menyebarkan Islam di Afrika Selatan. Saya merasa tertarik dengan cerita tersebut. Saya tertarik dengan ruh jihad Syaikh Yusuf al-Maqasari yang selalu menyebarkan Islam dimanapun tempatnya berada. Ia berjuang berlandaskan agama yang dibarengi dengan cinta kepada bangsanya.”
-KH. Maimoen Zubair.-
(Mustasyar PBNU & Pengasuh PP. Al-Anwar, Sarang-Rembang)

“My dear friend, Ustadh AmirulUlum has undertaken the task of writing this book “Shaykh Yusuf al-Maqassar, Jewel from Nusantara in South Africa” in an attempt to document various aspects of his life. I sincerely hope that the book will be translated into English.”
-Shaykh Shoayb Ahmed-
(Pengajar di Al-Ghazali College, keturunan Syaikh Yusuf al-Maqasari)

Syaikh Yusuf al-Maqassari : Mutiara Nusantara di Afrika Selatan



Judul : Syaikh Yusuf al-Maqassari : Mutiara Nusantara di Afrika Selatan
Penulis : Amirul Ulum
Pengantar : KH. Maimoen Zubair & Shaykh Shoayb Ahmed
Penerbit : CV. Global Press
Tebal : xx + 106 Halaman
Cetakan I : Maret 2017
Cover : Soft Cover
ISBN : 978-602-61077-0-1
Jenis Kertas : Book paper
Ukuran : 13,5×20,5
Harga : Rp. 35000,-

“Pada tahun 1950-an, ada tiga ulama yang berasal dari Cape Town (Afrika Selatan) yang menemui saya. Mereka meminta petunjuk masalah agama kepada saya dan menceritakan bahwa Syaikh Yusuf al-Maqasari adalah orang yang pertama kali menyebarkan Islam di Afrika Selatan. Saya merasa tertarik dengan cerita tersebut. Saya tertarik dengan ruh jihad Syaikh Yusuf al-Maqasari yang selalu menyebarkan Islam dimanapun tempatnya berada. Ia berjuang berlandaskan agama yang dibarengi dengan cinta kepada bangsanya.”
-KH. Maimoen Zubair.-
(Mustasyar PBNU & Pengasuh PP. Al-Anwar, Sarang-Rembang)

“My dear friend, Ustadh AmirulUlum has undertaken the task of writing this book “Shaykh Yusuf al-Maqassar, Jewel from Nusantara in South Africa” in an attempt to document various aspects of his life. I sincerely hope that the book will be translated into English.”
-Shaykh Shoayb Ahmed-
(Pengajar di Al-Ghazali College, keturunan Syaikh Yusuf al-Maqasari)


Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain
Judul : Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain
Penulis : Amirul Ulum
Pengantar : Ahmad Ginanjar Sya'ban
Penerbit : CV. Global Press
Tebal : xvi + 176 Halaman
Cetakan I : Mei 2017
Cover : Soft Cover
ISBN : 978-602-61077-8-7
Jenis Kertas : HVS
Ukuran : 13,5×20,5
Harga : Rp. 60.000,-




SINOPSIS :
“Saya mendapatkan ijazah khusus sebuah zikir untuk mengamalkannya dari pamanku, Syaikh Mahmud ibn Udiq al-Fadani dari al-Allamah al-Bahru al-Syaikh Ahmad Khatib ibn Abdul Lathif al-Minangkabawi. Al-Minangkabawi mengatakan, “Saya menerima talqin zikir dari guruku, Sayyid Abu Bakar Syatha, ia meriwayatkan zikir tersebut dari Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, mufti Makkah al-Mukarramah. Sanad ini berhujung hingga sampai kepada Ali ibn Abi Thalib dari Nabi Muhammad SAW.”
(Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Musnid Dunya)


“Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan sosok yang gagah perkasa, mukanya jernih, di keningnya terkesan bekas sujud, jenggotnya lancit, beliau didengki oleh ulama-ulama Arab karena lidahnya lebih fasih dan karangannya lebih balaghah dari karangan mereka. Beliau menantu orang kaya yang berkenalan (akrab) dengan syarief (penguasa Hijaz). Tetapi meskipun didengki, ia sangat disegani. Meskipun ia hidup dengan gaya bangsawan Arab, namun cintanya akan tanah Minangkabau tidak akan pernah putus. Tidak ada ulama Makkah yang sanggup menandingi beliau.”
(Syaikh Karim Amrullah : Tokoh Pembaharu Islam di Nusantara)


“Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah ulama yang berasal dari Minangkabau, yang oleh orang Jawa di Mekkah dianggap sebagai ulama yang paling berbakat dan berilmu di antara mereka. Semua orang di Indonesia yang naik haji, mengunjungi dia.”
(Snock Hurgronje : Mufti Hindia Belanda)


Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan salah seorang ulama Nusantara yang menorehkan prestasi gemilang dalam kencah keilmuan di Haramain (Makkah dan Madinah). Atas prestasi yang dihasilkannya, ia diangkat untuk menjadi pengajar, imam, dan khatib di Masjidil Haram. Bahkan karena tertarik dengan kealimannya, al-Minangkabawi diangkat menjadi Mufti Syafi’iyyah di Hijaz. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan dan membawa nama harum bangsa Indonesia.
Ketika Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi sudah berkiprah di Haramain, khususnya menjadi pengajar di Masjidil Haram, banyak thalabah dari penjuru dunia, terlebih Nusantara yang ikut beristifadah (belajar) mengitari majlis keilmuannya. Kebanyakan muridnya menjali tokoh yang berpengaruh dalam masalah keulamaan dan pergerakan dalam mengentaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajah. Di antara murid al-Minangkabawi adalah, Syaikh Abdul Hamid al-Minangkabawi (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Baqir al-Jukjawi (pengajar di Masjidil Haram), Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), Haji Agus Salim (tokoh kemerdekaan), Syaikh Muhammad Isa al-Fadani (ayah Syaikh Yasin al-Fadani), Syaikh Mahmud al-Fadani (paman Syaikh Yasin al-Fadani), Syaikh Karim Amrullah (tokoh pembaharu Nusantara, ayah Buya Hamka), Syaikh Abdu Wasi’ al-Yamani (ulama dari Yaman), Syaikh Hasan Ma’shum (mufti Kerajaan Deli), Syaikh Muhammad Nur Ismail (qadhi Kerajaan Langkat), Syaikh Sulaiman Arrasuli (ulama Minangkabau), dan lain-lain.
Meskipun Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi tidak bertempat tinggal di Nusantara_Minangkabau, namun kecintaannya kepada tanah airnya begitu kuat. Dengan senang hati, al-Minangkabawi membantu setiap thalabah Nusantara yang menjalani proses dirasah di Haramain. Bukan hanya sekedar menjadi pendidik, namun hartapun ia kucurkan kepada mereka yang kehabisan bekal dalam masalah ekonomi, sebab jauhnya jarak dengan kerabatnya.
Ketika umat Islam di Nusantara sedang dilanda sebuah masalah, terlebih masalah agama yang berkaiatan dengan akidah sebab digerus oleh kompeni melalui ulama gadungannya dan koleganya seperti Syaikh Abdul Ghaffar (Snock Hurgronje) dan Sayyid Ustman al-Batawi, maka tidak segan-segan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi akan mengeluarkan sikap keagamaannya dengan mengarang sebuah kitab yang akan menampik pendapat mereka.
Karena kealiman yang ditorehkan oleh Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Mufti Hindia Belanda, yaitu Snock Hurgronje mengatakan, “Seorang yang berasal dari Minangkabau, yang oleh orang Jawa di Mekkah dianggap sebagai ulama yang paling berbakat dan berilmu di antara mereka. Semua orang di Indonesia yang naik haji,mengunjungi dia.”
Buku ini berusaha mengupas tentang sosok Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi mulai dari sejarah leluhurnya, kiprahnya, dan prestasi yang ditorehkannya, termasuk juga sikapnya dalam menanggapi pergolakan di Nusantara, seperti lahirnya Sarekat Islam (SI) dan kemelut perbedaan pendapat antara Kaum Muda (Islam Modernis) dan Kaum Tua (Islam Tradisionalis).

Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain



Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain
Judul : Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi : Cahaya Nusantara di Haramain
Penulis : Amirul Ulum
Pengantar : Ahmad Ginanjar Sya'ban
Penerbit : CV. Global Press
Tebal : xvi + 176 Halaman
Cetakan I : Mei 2017
Cover : Soft Cover
ISBN : 978-602-61077-8-7
Jenis Kertas : HVS
Ukuran : 13,5×20,5
Harga : Rp. 60.000,-




SINOPSIS :
“Saya mendapatkan ijazah khusus sebuah zikir untuk mengamalkannya dari pamanku, Syaikh Mahmud ibn Udiq al-Fadani dari al-Allamah al-Bahru al-Syaikh Ahmad Khatib ibn Abdul Lathif al-Minangkabawi. Al-Minangkabawi mengatakan, “Saya menerima talqin zikir dari guruku, Sayyid Abu Bakar Syatha, ia meriwayatkan zikir tersebut dari Sayyid Ahmad ibn Zaini Dahlan, mufti Makkah al-Mukarramah. Sanad ini berhujung hingga sampai kepada Ali ibn Abi Thalib dari Nabi Muhammad SAW.”
(Syaikh Yasin ibn Isa al-Fadani : Musnid Dunya)


“Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan sosok yang gagah perkasa, mukanya jernih, di keningnya terkesan bekas sujud, jenggotnya lancit, beliau didengki oleh ulama-ulama Arab karena lidahnya lebih fasih dan karangannya lebih balaghah dari karangan mereka. Beliau menantu orang kaya yang berkenalan (akrab) dengan syarief (penguasa Hijaz). Tetapi meskipun didengki, ia sangat disegani. Meskipun ia hidup dengan gaya bangsawan Arab, namun cintanya akan tanah Minangkabau tidak akan pernah putus. Tidak ada ulama Makkah yang sanggup menandingi beliau.”
(Syaikh Karim Amrullah : Tokoh Pembaharu Islam di Nusantara)


“Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi adalah ulama yang berasal dari Minangkabau, yang oleh orang Jawa di Mekkah dianggap sebagai ulama yang paling berbakat dan berilmu di antara mereka. Semua orang di Indonesia yang naik haji, mengunjungi dia.”
(Snock Hurgronje : Mufti Hindia Belanda)


Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi merupakan salah seorang ulama Nusantara yang menorehkan prestasi gemilang dalam kencah keilmuan di Haramain (Makkah dan Madinah). Atas prestasi yang dihasilkannya, ia diangkat untuk menjadi pengajar, imam, dan khatib di Masjidil Haram. Bahkan karena tertarik dengan kealimannya, al-Minangkabawi diangkat menjadi Mufti Syafi’iyyah di Hijaz. Sungguh sebuah prestasi yang membanggakan dan membawa nama harum bangsa Indonesia.
Ketika Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi sudah berkiprah di Haramain, khususnya menjadi pengajar di Masjidil Haram, banyak thalabah dari penjuru dunia, terlebih Nusantara yang ikut beristifadah (belajar) mengitari majlis keilmuannya. Kebanyakan muridnya menjali tokoh yang berpengaruh dalam masalah keulamaan dan pergerakan dalam mengentaskan bangsa Indonesia dari belenggu penjajah. Di antara murid al-Minangkabawi adalah, Syaikh Abdul Hamid al-Minangkabawi (pengajar di Masjidil Haram), Syaikh Baqir al-Jukjawi (pengajar di Masjidil Haram), Kiai Ahmad Dahlan (pendiri Muhammadiyah), Kiai Hasyim Asy’ari (pendiri Nahdlatul Ulama), Haji Agus Salim (tokoh kemerdekaan), Syaikh Muhammad Isa al-Fadani (ayah Syaikh Yasin al-Fadani), Syaikh Mahmud al-Fadani (paman Syaikh Yasin al-Fadani), Syaikh Karim Amrullah (tokoh pembaharu Nusantara, ayah Buya Hamka), Syaikh Abdu Wasi’ al-Yamani (ulama dari Yaman), Syaikh Hasan Ma’shum (mufti Kerajaan Deli), Syaikh Muhammad Nur Ismail (qadhi Kerajaan Langkat), Syaikh Sulaiman Arrasuli (ulama Minangkabau), dan lain-lain.
Meskipun Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi tidak bertempat tinggal di Nusantara_Minangkabau, namun kecintaannya kepada tanah airnya begitu kuat. Dengan senang hati, al-Minangkabawi membantu setiap thalabah Nusantara yang menjalani proses dirasah di Haramain. Bukan hanya sekedar menjadi pendidik, namun hartapun ia kucurkan kepada mereka yang kehabisan bekal dalam masalah ekonomi, sebab jauhnya jarak dengan kerabatnya.
Ketika umat Islam di Nusantara sedang dilanda sebuah masalah, terlebih masalah agama yang berkaiatan dengan akidah sebab digerus oleh kompeni melalui ulama gadungannya dan koleganya seperti Syaikh Abdul Ghaffar (Snock Hurgronje) dan Sayyid Ustman al-Batawi, maka tidak segan-segan Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi akan mengeluarkan sikap keagamaannya dengan mengarang sebuah kitab yang akan menampik pendapat mereka.
Karena kealiman yang ditorehkan oleh Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi, Mufti Hindia Belanda, yaitu Snock Hurgronje mengatakan, “Seorang yang berasal dari Minangkabau, yang oleh orang Jawa di Mekkah dianggap sebagai ulama yang paling berbakat dan berilmu di antara mereka. Semua orang di Indonesia yang naik haji,mengunjungi dia.”
Buku ini berusaha mengupas tentang sosok Syaikh Ahmad Khatib al-Minangkabawi mulai dari sejarah leluhurnya, kiprahnya, dan prestasi yang ditorehkannya, termasuk juga sikapnya dalam menanggapi pergolakan di Nusantara, seperti lahirnya Sarekat Islam (SI) dan kemelut perbedaan pendapat antara Kaum Muda (Islam Modernis) dan Kaum Tua (Islam Tradisionalis).

NU MENJAWAB PROBLEMATIKA UMAT
(Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur)

Jilid I: Keputusan tahun 1979 s/d 2009 (memuat 369 masalah)
Buku Jilid I (Cover Hijau)
Jumlah Halaman = 966 hlm
Ukuran = 16,5 x 24 cm

Jilid 2: Keputusan tahun 2009 s/d 2014 (memuat 111 masalah)
Jilid II (Cover Coklat)
Jumlah Halaman = 872 hlm
Ukuran = 16,5 x 24 cm


Daftar Isi Kronologis berdasarkan tahun

Daftar Isi Tematik yang terbagi dalam beberapa tema, yaitu:

1. Akidah dan Fiqh Mazhab
2. Fiqh Thaharah
3. Fiqh Shalat
4. Al-Qur’an, Doa, dan Bacaan
5. Fiqh Jenazah dan Kuburan
6. Fiqh Zakat
7. Fiqh Puasa
8. Fiqh Haji dan Umroh
9. Fiqh Muamalah
10. Fiqh Wakaf
11. Fiqh Munakahat
12. Akhlak dan Fiqh Tarbiyah
13. Fiqh Makanan
14. Fiqh Medis
15. Fiqh Mawaris
16. Fiqh Sosial
17. Fiqh Seni Budaya
18. Fiqh Yustisi
19. Fiqh Siyasah

Detail Berat = 3 kg
Satu paket = Rp. 340.000,-
Terdiri dari dua jilid;

ke langsung WHATSAPP klik link 👇👇👇

http://bit.ly/tokobukupesantrenWHATSAPP


NU MENJAWAB PROBLEMATIKA UMAT


NU MENJAWAB PROBLEMATIKA UMAT
(Keputusan Bahtsul Masail PWNU Jawa Timur)

Jilid I: Keputusan tahun 1979 s/d 2009 (memuat 369 masalah)
Buku Jilid I (Cover Hijau)
Jumlah Halaman = 966 hlm
Ukuran = 16,5 x 24 cm

Jilid 2: Keputusan tahun 2009 s/d 2014 (memuat 111 masalah)
Jilid II (Cover Coklat)
Jumlah Halaman = 872 hlm
Ukuran = 16,5 x 24 cm


Daftar Isi Kronologis berdasarkan tahun

Daftar Isi Tematik yang terbagi dalam beberapa tema, yaitu:

1. Akidah dan Fiqh Mazhab
2. Fiqh Thaharah
3. Fiqh Shalat
4. Al-Qur’an, Doa, dan Bacaan
5. Fiqh Jenazah dan Kuburan
6. Fiqh Zakat
7. Fiqh Puasa
8. Fiqh Haji dan Umroh
9. Fiqh Muamalah
10. Fiqh Wakaf
11. Fiqh Munakahat
12. Akhlak dan Fiqh Tarbiyah
13. Fiqh Makanan
14. Fiqh Medis
15. Fiqh Mawaris
16. Fiqh Sosial
17. Fiqh Seni Budaya
18. Fiqh Yustisi
19. Fiqh Siyasah

Detail Berat = 3 kg
Satu paket = Rp. 340.000,-
Terdiri dari dua jilid;

ke langsung WHATSAPP klik link 👇👇👇

http://bit.ly/tokobukupesantrenWHATSAPP


Terbitnya buku "Fiqih Kange, Sumber rujukan problematika fiqih" adalah salah satu bentuk ikhtiyar dari pesantren, untuk lebih memudahkan masyarakat dalam memahami ilmu ini. Buku ini disusun dengan sistem tanya jawab disertai dengan dasar pengambilan dari kitab-kitab yang mu'tabar dan telah diolah dengan rapi dan sistematis.
....
~ HABIB NOVEL BIN MUHAMMAD ALAYDRUS~
Penulis dan Pimpinan Majelis Ar-Raudhah Surakarta

FIQIH KANGE,
Sumber Rujukan Problematika Fiqih (2jilid)
dimensi : Soft cover 16x24 cm
Jilid 1 tebal buku : xxxviii + 462 halaman ; 15,5x23,5 cm
Jilid 2 tebal buku : cxxiv + 458 halaman ; 15,5x23,5 cm

Harga Rp. 150.000,-

Buku Bahtsul Masail yang mengulas jelas berbagai permasalahan agama, seperti :

QURBAN ATAS NAMA INSTANSI
(Fiqih Kang'e, jilid 2 halaman 400-401)
....
Kesempatan berkurban di hari raya Idul Adha yang hanya setahun sekali ini tentu tidak boleh disia-siakan. Sehingga banyak yang berlomba-lomba untuk berkurban. Termasuk pula dari pihak instansi. Dan prakteknya, biasanya mereka menyerahkan hewan yang akan dikurbankan kepada Kiai atau panitia kurban. Namun sering sekali penyerahan tersebut diatas namakan instansi atau merupakan kumpulan kurban dari beberapa pihak, tanpa disertai keterangan jelas siapa yang berkuban dan dalam statis wajib atau Sunnah.
....
Pertanyaan : Bagaimanakah status hewan yang dibuat kurban oleh instansi baik atas nama instansi tersebut seperti bank, sekolah, yayasan dsb., atau sekedar penyerahan yang tidak jelas seperti dalam deskripsi?
....
Jawaban : Tidak sah sebagai qurban dan statusnya menjadi shodaqoh.
....
Referensi :
١ . نهاية المحتاج الجزء السادس ص : ١٨٠ طبعة دار الكتب العلمية
٢. حاشية الجمل الجزء الثامن ص : ٢٢٣ طبعة دار الكتب العلمية
....



*Solusi Ibadah Orang Sakit*
Pertanyaan : Apakah ada solusi bagi orang sakit parah yang bila digunakan bergerak dalam rangka shalat maka akan bertambah parah?

Jawaban : Ada, yaitu mengikuti pendapatnya imam Abu Hanifah yang berpendapat "boleh meninggalkan shalat apabila sudah tidak bisa dengan menggunakan isyarat kepala", dan imam Malik yang berpendapat "boleh shalat dengan dengan menggunakan isyarat kedipan mata atau isyarat dalam hati saat sakit parah".
Referensi :
بغية المسترشدين (ص : ٩٩، طبعة دار الكتب العلمية)
Bughyah Al-Mustarsyidin (Hal. 99, cet. Daar Al-Kutub Al-Ilmiyyah)

dan masih banyak lagi


FIQIH KANGE, Sumber Rujukan Problematika Fiqih

Terbitnya buku "Fiqih Kange, Sumber rujukan problematika fiqih" adalah salah satu bentuk ikhtiyar dari pesantren, untuk lebih memudahkan masyarakat dalam memahami ilmu ini. Buku ini disusun dengan sistem tanya jawab disertai dengan dasar pengambilan dari kitab-kitab yang mu'tabar dan telah diolah dengan rapi dan sistematis.
....
~ HABIB NOVEL BIN MUHAMMAD ALAYDRUS~
Penulis dan Pimpinan Majelis Ar-Raudhah Surakarta

FIQIH KANGE,
Sumber Rujukan Problematika Fiqih (2jilid)
dimensi : Soft cover 16x24 cm
Jilid 1 tebal buku : xxxviii + 462 halaman ; 15,5x23,5 cm
Jilid 2 tebal buku : cxxiv + 458 halaman ; 15,5x23,5 cm

Harga Rp. 150.000,-

Buku Bahtsul Masail yang mengulas jelas berbagai permasalahan agama, seperti :

QURBAN ATAS NAMA INSTANSI
(Fiqih Kang'e, jilid 2 halaman 400-401)
....
Kesempatan berkurban di hari raya Idul Adha yang hanya setahun sekali ini tentu tidak boleh disia-siakan. Sehingga banyak yang berlomba-lomba untuk berkurban. Termasuk pula dari pihak instansi. Dan prakteknya, biasanya mereka menyerahkan hewan yang akan dikurbankan kepada Kiai atau panitia kurban. Namun sering sekali penyerahan tersebut diatas namakan instansi atau merupakan kumpulan kurban dari beberapa pihak, tanpa disertai keterangan jelas siapa yang berkuban dan dalam statis wajib atau Sunnah.
....
Pertanyaan : Bagaimanakah status hewan yang dibuat kurban oleh instansi baik atas nama instansi tersebut seperti bank, sekolah, yayasan dsb., atau sekedar penyerahan yang tidak jelas seperti dalam deskripsi?
....
Jawaban : Tidak sah sebagai qurban dan statusnya menjadi shodaqoh.
....
Referensi :
١ . نهاية المحتاج الجزء السادس ص : ١٨٠ طبعة دار الكتب العلمية
٢. حاشية الجمل الجزء الثامن ص : ٢٢٣ طبعة دار الكتب العلمية
....



*Solusi Ibadah Orang Sakit*
Pertanyaan : Apakah ada solusi bagi orang sakit parah yang bila digunakan bergerak dalam rangka shalat maka akan bertambah parah?

Jawaban : Ada, yaitu mengikuti pendapatnya imam Abu Hanifah yang berpendapat "boleh meninggalkan shalat apabila sudah tidak bisa dengan menggunakan isyarat kepala", dan imam Malik yang berpendapat "boleh shalat dengan dengan menggunakan isyarat kedipan mata atau isyarat dalam hati saat sakit parah".
Referensi :
بغية المسترشدين (ص : ٩٩، طبعة دار الكتب العلمية)
Bughyah Al-Mustarsyidin (Hal. 99, cet. Daar Al-Kutub Al-Ilmiyyah)

dan masih banyak lagi


+Toko Buku Pesantren

Terjemah TA’LIM MUTA’ALLIM 
Kajian dan Analisis disertai Tanya Jawab

Halaman : xxiv + 468 hal.
Ukuran : 15,5 x 23,5 cm.
penerbit Santri Salaf Press
60K


Kami merasa bangga dan menyambut gembira atas terbitnya buku yang mengkaji dan menganalisis kitab kuning “Ta’lim Muta’allim Lengkap dengan Tanya Jawab, seperti kenapa tidak baik makan ikan? Dll.”. Kitab yang menjelaskan tentang akhlak. Sangat cocok untuk masa sekarang karena banyaknya orang yang sudah tidak memperhatikan moral dan akhlaknya. Tidak santri, tidak mahasiswa, tidak tua, tidak muda, tidak besar, tidak kecil, mereka lebih mementingkan ilmu tanpa melengkapinya dengan akhak. Padahal tolak ukurnya seseorang berilmu atau tidak adalah akhlaknya.
KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus
Pengasuh Pon. Pes. Lirboyo Kediri



 Terjemah TA’LIM MUTA’ALLIM Kajian dan Analisis disertai tanya jawab


Terjemah TA’LIM MUTA’ALLIM Kajian dan Analisis disertai Tanya Jawab

+Toko Buku Pesantren

Terjemah TA’LIM MUTA’ALLIM 
Kajian dan Analisis disertai Tanya Jawab

Halaman : xxiv + 468 hal.
Ukuran : 15,5 x 23,5 cm.
penerbit Santri Salaf Press
60K


Kami merasa bangga dan menyambut gembira atas terbitnya buku yang mengkaji dan menganalisis kitab kuning “Ta’lim Muta’allim Lengkap dengan Tanya Jawab, seperti kenapa tidak baik makan ikan? Dll.”. Kitab yang menjelaskan tentang akhlak. Sangat cocok untuk masa sekarang karena banyaknya orang yang sudah tidak memperhatikan moral dan akhlaknya. Tidak santri, tidak mahasiswa, tidak tua, tidak muda, tidak besar, tidak kecil, mereka lebih mementingkan ilmu tanpa melengkapinya dengan akhak. Padahal tolak ukurnya seseorang berilmu atau tidak adalah akhlaknya.
KH. Abdulloh Kafabihi Mahrus
Pengasuh Pon. Pes. Lirboyo Kediri



 Terjemah TA’LIM MUTA’ALLIM Kajian dan Analisis disertai tanya jawab


Mabadi Nahwiyah
Pengantar memahami Jurumiyyah
Penerbit Darul Hikmah
Penulis M. Sholihuddin Shofwan
Tebal 164 Halaman
Ukuran 16 x 24 Cm
Cover Soft Cover
Jenis Kertas HVS 70 Gram
36K

Buku ini akan mengantarkan Anda di dalam memahami dan mendalami Ilmu Nahwu. Utamanya dasar-dasar Nahwu (Mabadi An Nahwiyyah) yang mutlaq dibutuhkan.

berikut sedikit mengenai ilmu nahwu :

Abul Ilmi, ayahnya ilmu. Itulah sebutan yang diberikan para ulama untuk ilmu Nahwu. Ilmu ini bertujuan menjaga kesalahan lisan dalam mengucapkan kalam Arab, serta sebagai Istianah (lantaran) di dalam memahami Al-Quran dan Hadits. Juga dinamakan Ilmu Alat, karena semua ilmu agama seperti Ilmu Fiqih, ilmu Tauhid, ilmu Tasawwuf dan semua ilmu yang berbahasa Arab akan menjadi mudah memahaminya lantaran ilmu Nahwu.

Mabadi Nahwiyah Pengantar memahami Jurumiyyah

Mabadi Nahwiyah Pengantar memahami Jurumiyyah

Mabadi Nahwiyah
Pengantar memahami Jurumiyyah
Penerbit Darul Hikmah
Penulis M. Sholihuddin Shofwan
Tebal 164 Halaman
Ukuran 16 x 24 Cm
Cover Soft Cover
Jenis Kertas HVS 70 Gram
36K

Buku ini akan mengantarkan Anda di dalam memahami dan mendalami Ilmu Nahwu. Utamanya dasar-dasar Nahwu (Mabadi An Nahwiyyah) yang mutlaq dibutuhkan.

berikut sedikit mengenai ilmu nahwu :

Abul Ilmi, ayahnya ilmu. Itulah sebutan yang diberikan para ulama untuk ilmu Nahwu. Ilmu ini bertujuan menjaga kesalahan lisan dalam mengucapkan kalam Arab, serta sebagai Istianah (lantaran) di dalam memahami Al-Quran dan Hadits. Juga dinamakan Ilmu Alat, karena semua ilmu agama seperti Ilmu Fiqih, ilmu Tauhid, ilmu Tasawwuf dan semua ilmu yang berbahasa Arab akan menjadi mudah memahaminya lantaran ilmu Nahwu.

Mabadi Nahwiyah Pengantar memahami Jurumiyyah
Judul                     JAM’U AL-JAWAMI’, Kajian dan penjelasan dua Ushul (Ushul Fiqh dan Ushuludin)
Penyusun            : Darul Azka, Kholid Afandi, Nailul Huda
Editor                    : Darul Azka
Setting, Lay Out &
Design Cover     : Santri Salaf Crew
Penerbit              : Santri Salaf Press
Ukuran                                 : 15,6 x 24 cm
Tebal                     : Juz I     : 277 Halaman
                                Juz II    : 279 Halaman
                                Juz III   : 293 Halaman

Cetakan               : Pertama, Tahun 2014
Haarga Rp 125rb


Jam’u Al-Jawami’ adalah sebuah karya monumental Imam At-Taj As-Subki. Salah satu karya yang paling komprehensif dari sekian banyak kitab bermaterikan disiplin ilmu ushul fiqh dan ushuluddin. Disaat kehadiran kitab tersebut muncul ribuan bahkan jutaan bendera pujian yang dikibarkan oleh kalangan ulama dan mereka yang memberi gelar dengan sebutan benteng raksasa, dikarenakan peta pembahasan yang termuat dalam kitab tersebut tidak hanya mencangkup satu wilayah pembahasan akan tetapi dua pembahasan, pertama mengupas disiplin ilmu ushul fiqh, kedua seputar ushuludin (aqidah) dan diakhiri dengan pembahasan yang selaras dengan ushuludin, yakni tasawwuf.
Karena pentingnya kitab ini bagi pengkaji dua ushul diatas, maka muncul inisiatif dibuatlah buku ini dengan format yang baru. Dimulai dengan terjemahan, kemudian dilanjutkan penjelasan dari berbagai refrensi syarh, hasyiah dan perbandingan kitab lain. Dengan maksud memudahkan para pembaca untuk memahami dan menalarkan lebih cepat dan sistematis. Dengan semangat intelektual yang ada dalam buku ini, semoga dapat menambah bagi pembaca volume pengetahuan dibidang disiplin ushul fiqh, sekaligus membentengi kemurnian aqidah dan pada akhirnya cahaya kemurnian aqidah semakin terang dan kebathilan aqidah akan menjadi sirna.

 www.facebook.com/TokoBukuPesantren



JAM’U Al-JAWAMI’ Kajian dan penjelasan dua ushul (Ushul Fiqh dan Ushuluddin)

Judul                     JAM’U AL-JAWAMI’, Kajian dan penjelasan dua Ushul (Ushul Fiqh dan Ushuludin)
Penyusun            : Darul Azka, Kholid Afandi, Nailul Huda
Editor                    : Darul Azka
Setting, Lay Out &
Design Cover     : Santri Salaf Crew
Penerbit              : Santri Salaf Press
Ukuran                                 : 15,6 x 24 cm
Tebal                     : Juz I     : 277 Halaman
                                Juz II    : 279 Halaman
                                Juz III   : 293 Halaman

Cetakan               : Pertama, Tahun 2014
Haarga Rp 125rb


Jam’u Al-Jawami’ adalah sebuah karya monumental Imam At-Taj As-Subki. Salah satu karya yang paling komprehensif dari sekian banyak kitab bermaterikan disiplin ilmu ushul fiqh dan ushuluddin. Disaat kehadiran kitab tersebut muncul ribuan bahkan jutaan bendera pujian yang dikibarkan oleh kalangan ulama dan mereka yang memberi gelar dengan sebutan benteng raksasa, dikarenakan peta pembahasan yang termuat dalam kitab tersebut tidak hanya mencangkup satu wilayah pembahasan akan tetapi dua pembahasan, pertama mengupas disiplin ilmu ushul fiqh, kedua seputar ushuludin (aqidah) dan diakhiri dengan pembahasan yang selaras dengan ushuludin, yakni tasawwuf.
Karena pentingnya kitab ini bagi pengkaji dua ushul diatas, maka muncul inisiatif dibuatlah buku ini dengan format yang baru. Dimulai dengan terjemahan, kemudian dilanjutkan penjelasan dari berbagai refrensi syarh, hasyiah dan perbandingan kitab lain. Dengan maksud memudahkan para pembaca untuk memahami dan menalarkan lebih cepat dan sistematis. Dengan semangat intelektual yang ada dalam buku ini, semoga dapat menambah bagi pembaca volume pengetahuan dibidang disiplin ushul fiqh, sekaligus membentengi kemurnian aqidah dan pada akhirnya cahaya kemurnian aqidah semakin terang dan kebathilan aqidah akan menjadi sirna.

 www.facebook.com/TokoBukuPesantren



Judul : KADO UNTUK ISTRI
Penulis : Mukhtar Syafaat; Afifuddin; Badrus Soleh; Ach. Zaini Aly; & Moh. Zahri MS
Editor : Achmad Shiddiq
Proofreader : Mohammad Achyat Ahmad
Tata Letak : @_yat
Sampul Muka : AlvaDesign
Cetakan Pertama : Muharam 1437 H.
Tebal : 236 Halaman
Harga : 55.000

Tak ada hal terindah yang diharapkan oleh setiap wanita selain kehadiran seorang imam shaleh yang didambakannya; kehadiran seorang suami yang akan menuntun dan membimbingnya menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah kado terindah bagi setiap wanita. Dalam menjalankan tugasnya sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya, seorang istri membutuhkan kehadiran sosok yang bisa menguatkannya, baik secara fisik maupun mental, dan mendukungnya dengan segenap kesabaran dan kasih sayang dalam menjalani tugas-tugas yang diamanatkan kepadanya.
Nah, buku ini secara spesial dihadiahkan kepada setiap kaum Hawa, baik yang sudah berkeluarga maupun yang akan berkeluarga, agar ia bersiap menjadi permaisuri rumah tangga yang dipenuhi ketenteraman dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

KADO UNTUK ISTRI

KADO UNTUK ISTRI

Judul : KADO UNTUK ISTRI
Penulis : Mukhtar Syafaat; Afifuddin; Badrus Soleh; Ach. Zaini Aly; & Moh. Zahri MS
Editor : Achmad Shiddiq
Proofreader : Mohammad Achyat Ahmad
Tata Letak : @_yat
Sampul Muka : AlvaDesign
Cetakan Pertama : Muharam 1437 H.
Tebal : 236 Halaman
Harga : 55.000

Tak ada hal terindah yang diharapkan oleh setiap wanita selain kehadiran seorang imam shaleh yang didambakannya; kehadiran seorang suami yang akan menuntun dan membimbingnya menuju keridhaan Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Inilah kado terindah bagi setiap wanita. Dalam menjalankan tugasnya sebagai pendamping suami dan ibu bagi anak-anaknya, seorang istri membutuhkan kehadiran sosok yang bisa menguatkannya, baik secara fisik maupun mental, dan mendukungnya dengan segenap kesabaran dan kasih sayang dalam menjalani tugas-tugas yang diamanatkan kepadanya.
Nah, buku ini secara spesial dihadiahkan kepada setiap kaum Hawa, baik yang sudah berkeluarga maupun yang akan berkeluarga, agar ia bersiap menjadi permaisuri rumah tangga yang dipenuhi ketenteraman dan keberkahan dari Allah Subhanahu wa Ta’ala.

KADO UNTUK ISTRI
Mengapa Saya Harus Mondok Di Pesantren?

Penerbit : Pustaka Sidogiri
Jenis Kertas : HVS 70 Gram
Penulis : Tim Penulis Pustaka Sidogiri
Tebal : 262 Halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Cover : Soft Cover
Harga 50K

Ilmu ini adalah bagian dari agama, maka pertimbangkanlah secara matang, dari siapa kalian akan mempelajari agama kalian?
Muhammad bin Sirin

Pesantren memiliki sekian banyak keunikan yang hampir menjadi misteri. Sulit dirumuskan menjadi teori. Menyimpan sekian banyak rahasia yang membuatnya menjadi satu-satunya pola pendidikan agama yang berhasil melahirkan ulama-ulama hebat di sepanjang sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Semua pesantren memegang tiga prinsip pokok, yaitu ilmu, amal, dan ikhlas. Tiga pokok lainnya: Iman, Islam, dan Ihsan, atau dalam bahasa lain akidah, syariah, dan akhlak.

Buku ini berupaya menjabarkan hakikat dari prinsip-prinsip pendidikan keagamaan, yang mesti dipegang guru maupun pelajar. Prinsip-prinsip itulah yang sudah sejak lama dipegang oleh pesantren, dan jauh sebelum itu melahirkan Imam Asy-Syafi’i, Imam Al-Bukhari, Imam, Al-Ghazali, Imam As-Suyuthi, dan ratusan ribu ulama lain yang agaknya tak bisa ditandingi oleh generasi-generasi pemikir di era modern ini. Apalagi oleh para cendekiawan yang menimba pengetahuan Islam justru dari dosen-dosen non-Muslim, atau mempelajari Islam dari buku-buku karya para pemikir Yahudi dan Kristen.

Mengapa Saya Harus Mondok Di Pesantren?

Mengapa Saya Harus Mondok Di Pesantren?

Penerbit : Pustaka Sidogiri
Jenis Kertas : HVS 70 Gram
Penulis : Tim Penulis Pustaka Sidogiri
Tebal : 262 Halaman
Ukuran : 14 x 21 cm
Cover : Soft Cover
Harga 50K

Ilmu ini adalah bagian dari agama, maka pertimbangkanlah secara matang, dari siapa kalian akan mempelajari agama kalian?
Muhammad bin Sirin

Pesantren memiliki sekian banyak keunikan yang hampir menjadi misteri. Sulit dirumuskan menjadi teori. Menyimpan sekian banyak rahasia yang membuatnya menjadi satu-satunya pola pendidikan agama yang berhasil melahirkan ulama-ulama hebat di sepanjang sejarah perkembangan Islam di Nusantara. Semua pesantren memegang tiga prinsip pokok, yaitu ilmu, amal, dan ikhlas. Tiga pokok lainnya: Iman, Islam, dan Ihsan, atau dalam bahasa lain akidah, syariah, dan akhlak.

Buku ini berupaya menjabarkan hakikat dari prinsip-prinsip pendidikan keagamaan, yang mesti dipegang guru maupun pelajar. Prinsip-prinsip itulah yang sudah sejak lama dipegang oleh pesantren, dan jauh sebelum itu melahirkan Imam Asy-Syafi’i, Imam Al-Bukhari, Imam, Al-Ghazali, Imam As-Suyuthi, dan ratusan ribu ulama lain yang agaknya tak bisa ditandingi oleh generasi-generasi pemikir di era modern ini. Apalagi oleh para cendekiawan yang menimba pengetahuan Islam justru dari dosen-dosen non-Muslim, atau mempelajari Islam dari buku-buku karya para pemikir Yahudi dan Kristen.
Blogshop
0 item(s) in cart
Copyright © 2015.
Toko Buku Pesantren Allright reserved.
Proudly by Blogger
cart
0 items in cart